Baru-baru ini, Bank Indonesia (BI) telah merilis hasil survey triwulanan nya yang bertajuk Survei Harga Properti Residensial (SHPR). Salah satu hal yang menarik dalam iklim properti residensial pada triwulan I tahun 2026 yaitu tentang dinamika penjualan. BI mengatakan bahwa penjualan rumah secara keseluruhan mengalami penurunan hingga 26%, menurun drastis dari kenaikan 7% pada triwulan IV tahun 2025.
Penurunan tersebut diklasifikasikan per tipe, di mana tipe kecil (di bawah 36 sqm) mengalami penurunan paling drastis yaitu sebesar 46%, rumah tipe menengah (36-70 sqm) meningkat sebanyak 8%, dan rumah besar (di atas 70 sqm) menurun sebesar 8%.
Rumah tipe kecil umumnya menyasar segmen kelas menengah dan pembeli rumah pertama. Ketika kondisi ekonomi melemah, seperti yang ditandai oleh pelemahan rupiah dan inflasi, kelompok ini menjadi salah satu yang paling terdampak.
Kondisi yang sama juga terjadi pada rusun subsidi, yang memiliki pelemahan penyerapan. BP Tapera melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025 hanya dapat menyalurkan dana untuk 3 unit rusun subsidi. Hal ini diantaranya disebabkan oleh masyarakat yang enggan untuk bertempat tinggal di hunian vertikal. Selain itu, pengembang juga masih menimbang pembangunan rusun karena nilai jualnya yang lebih rendah dan memiliki margin yang lebih tipis dibandingkan rumah tapak.
Namun demikian, berbeda halnya dengan rumah tipe menengah, yang saat ini tengah mengalami peningkatan penjualan. Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Knight Frank Indonesia, untuk rumah vertikal atau apartemen di Jakarta.
Salah satu pengembang melaporkan bahwa proyek perumahan tipe menengah memperoleh respons positif dengan penjualan lebih dari 100 unit sejak masa pemasaran dimulai pada November tahun lalu. Tingginya minat pasar tersebut mendorong pengembang untuk membuka fase kedua penjualan pada April tahun ini.
Temuan-temuan tersebut menjadi cermin pada kinerja pasar properti residensial. Pasar merefleksikan pergerakan kemampuan kelas ekonomi masyarakat yang masih bergerak saat ini.
Saat kondisi ekonomi melemah, pembelian rumah cenderung ditunda karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan lain atau pengeluaran yang memberikan kepuasan jangka pendek (lipstick effect).
Namun, di sisi lain, rumah tipe menengah masih menunjukkan kinerja yang relatif baik, terutama di kawasan kota penyangga. Dan, rumah tipe besar cenderung tetap kuat dan stabil, lebih dipengaruhi oleh preferensi dan kemampuan finansial segmen berpenghasilan tinggi.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/rumah-kian-tak-terjangkau-daya-beli-masyarakat-di-tengah-tekanan-rupiah/4995
https://lestari.kompas.com/
https://www.detik.com/
https://www.cnbcindonesia.com/
https://bi.go.id/
https://investortrust.id/
https://wartaekonomi.co.id/