Rumah Kian Tak Terjangkau: Daya Beli Masyarakat di Tengah Tekanan Rupiah

Friday, 5 June 2026

Kepemilikan rumah masih menjadi salah satu tantangan utama bagi masyarakat Indonesia. Di tengah pertumbuhan penduduk dan kenaikan harga properti, kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah semakin dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, salah satunya adalah nilai tukar rupiah.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang semakin hari melemah, tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya beli masyarakat dalam mengakses hunian. Kondisi ini pada akhirnya berkaitan erat dengan tingginya backlog perumahan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan pelaku industri properti.

Backlog perumahan merupakan kondisi ketika kebutuhan masyarakat akan rumah lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah rumah yang tersedia atau dimiliki. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan hunian yang layak. Berdasarkan data resmi pemerintah yang tercatat di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), angka backlog perumahan mencapai lebih dari 29 juta keluarga. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum memiliki rumah sendiri atau masih menempati hunian yang belum memenuhi standar kelayakan.

Dalam sektor konstruksi, meskipun sebagian besar material bangunan diproduksi di dalam negeri, masih terdapat sejumlah komponen yang harganya dipengaruhi oleh kurs valuta asing, seperti baja, peralatan mekanikal dan elektrikal, mesin konstruksi, serta material lainnya. Kenaikan biaya tersebut menyebabkan biaya pembangunan rumah meningkat dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga jual properti.

Di sisi lain, daya beli masyarakat cenderung melemah karena pertumbuhan pendapatan rumah tangga sering kali lebih lambat dibandingkan dengan kenaikan harga properti. Survei Home Affordability Survey 2025 yang dilakukan oleh Bankrate menemukan bahwa satu dari enam calon pembeli rumah tidak berhasil menemukan hunian yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka dalam lima tahun terakhir, sehingga terpaksa menunda rencana pembelian rumah. Meskipun survei tersebut dilakukan di Amerika Serikat, isu keterjangkauan perumahan juga terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Pelemahan rupiah, naiknya BI rate dan inflasi memperburuk backlog perumahan, sehingga membuat harga rumah baru semakin mahal sehingga sulit dijangkau oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Menurunnya daya beli menyebabkan banyak keluarga lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sehingga menunda pembelian rumah karena keterbatasan kemampuan finansial. 

Kondisi di atas menyebabkan pengembang perumahan pun ikut menerima dampak, khususnya yang bergerak di segmen rumah terjangkau, menghadapi tekanan biaya yang lebih besar sehingga pembangunan proyek baru menjadi kurang menarik secara ekonomi. Akibatnya, pasokan rumah yang tersedia tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan masyarakat.

Diperlukan upaya yang komprehensif dari berbagai pihak dan pemerintah untuk terus memperkuat program 3 juta rumah, memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta mendorong inovasi dalam pembangunan rumah yang lebih efisien dan terjangkau. Peningkatan pendapatan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif juga menjadi kunci dalam memperkuat daya beli sehingga lebih banyak keluarga mampu memiliki rumah sendiri.

 

Penulis : Miranti Paramita

Sumber : 

https://www.detik.com/

https://industri.kontan.co.id/

https://www.cnbcindonesia.com/

Share:
Back to Blogs