Di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak, kuartal pertama tahun 2026 menghadirkan gambaran yang kurang menggembirakan bagi pasar hunian Indonesia. Data terbaru dari Bank Indonesia mencatat dua tekanan yang terjadi bersamaan, yaitu laju kenaikan harga yang terus terkikis dan volume transaksi yang ambruk secara signifikan.
Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 tumbuh terbatas, dengan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh sebesar 0,62% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 0,83% (yoy). Secara kuartalan, perlambatan juga tampak nyata.
IHPR di pasar primer pada kuartal I 2026 hanya tumbuh 0,04% (qoq), melambat dibandingkan 0,17% (qoq) pada kuartal sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan rumah tipe kecil yang melambat dari 0,28% (qtq) menjadi 0,06% (qtq), sementara harga rumah tipe menengah bahkan mengalami kontraksi sebesar 0,01% (qtq).
Tekanan terbesar justru datang dari sisi volume transaksi. Penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 terkontraksi 25,67% (yoy), berbalik drastis dari pertumbuhan 7,83% (yoy) pada triwulan IV 2025. Penurunan terdalam terjadi pada rumah tipe kecil yang anjlok 45,59% (yoy), sementara rumah tipe besar masih terkontraksi 8,03% (yoy). Sebaliknya, penjualan rumah tipe menengah menjadi satu-satunya segmen yang mencatat pertumbuhan positif, yakni sebesar 8,28% (yoy).
Melemahnya penjualan ini bukan fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. BI mencatat tantangan utama pengembangan dan penjualan properti residensial meliputi kenaikan harga bahan bangunan sebesar 20,97%, masalah perizinan atau birokrasi sebesar 18,15%, serta suku bunga KPR sebesar 16,47%. Proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR mencapai 12,16% dan faktor perpajakan sebesar 11,28% turut menjadi penghambat pasar.
Dari sisi pembiayaan, pola yang diakses konsumen tidak banyak berubah. Pangsa pembelian rumah primer melalui KPR mencapai 69,87% dari total skema pembelian, diikuti tunai bertahap sebesar 19,61% dan tunai sebesar 10,53%. Dari sisi pengembang, sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal pengembang, dengan pangsa mencapai 80,66% dari total kebutuhan pembiayaan.
Dapat diketahui bahwa data SHPR triwulan I 2026 memberikan sinyal yang cukup jelas, yaitu pasar hunian Indonesia sedang berada dalam fase tekanan. Meski harga masih mencatat pertumbuhan, lajunya terus tergerus sementara volume transaksi merosot tajam. Kondisi ini menegaskan perlunya strategi yang lebih adaptif dari para pelaku industri, baik dalam penetapan harga, pemilihan segmen produk, maupun skema pembiayaan yang ditawarkan kepada konsumen.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://www.bi.go.id/
https://kumparan.com/
https://money.kompas.com/