Mengenal Fenomena “Lipstick Effect” yang terjadi di Indonesia

Friday, 5 June 2026

Kondisi ekonomi saat ini cukup challenging, di antaranya ditandai dengan rendahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan pokok, inflasi, dsb. Kondisi ini diperkirakan akan memberi dampak nyata, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, yang cenderung cukup rentan. 

Namun di sisi lain, kelas menengah merupakan penggerak utama konsumsi nasional. Menurut data resmi BPS, middle class dan aspiring middle class menyumbang sebanyak 80% dari total konsumsi nasional. Tentu saja, hal ini potensi kekuatan kelas menengah ini berpotensi mengalami pelemahan, jika kondisi ekonomi tidak kunjung membaik. 

Misalnya saja, dari perspektif penjualan properti. Knight Frank Indonesia menyebutkan bahwa penjualan apartemen masih stagnan pada paruh kedua 2025. Sementara itu, menurut Bank Indonesia, harga properti residensial saat ini hanya tumbuh 0,62% (-0.21% dari kuartal sebelumnya), mengindikasikan kesulitan pengembang untuk menaikkan harga karena permintaan yang masih stagnan.

Namun, perlambatan yang terjadi pada sektor residensial tidak sepenuhnya tercermin pada sektor ritel. Dalam Jakarta Property Highlight, tingkat okupansi ritel di Jakarta pada paruh kedua 2025 meningkat hingga 78%. Meskipun pertumbuhannya terbatas, aktivitas pasar ritel masih didorong oleh ekspansi tenant dari subsektor F&B, fashion, dan beauty, terutama merek-merek internasional seperti gerai fragrant tea, matchashop, coffeeshop, dan high-end brand store. Ekspansi tenant-tenant tersebut mengindikasikan bahwa permintaan terhadap barang-barang yang bersifat non-esensial atau premium masih tetap terjaga hingga saat ini.

Tak hanya itu, peningkatan sektor retail juga tercermin dari subsektor e-commerce. Data BI menunjukkan bahwa pertumbuhan nilai transaksi e-commerce meningkat drastis sejak 2019 hingga 2024 (dari Rp205,5 triliun menjadi Rp487,01 triliun). Bahkan, pada kuartal I tahun 2026, nilai transaksi e-commerce kembali meningkat sebesar 6,2% QoQ.

Perbedaan kinerja antara sektor residensial dan ritel menunjukkan bahwa pelemahan daya beli tidak terjadi secara merata. Masyarakat cenderung menunda pembelian aset bernilai besar seperti rumah dan mobil, tetapi tetap mengonsumsi barang luxury yang lebih terjangkau, seperti kosmetik high-end, kopi premium, dan apparel bermerek. 

Pergeseran pola konsumsi ini dikenal sebagai Lipstick Effect, yaitu kecenderungan konsumen untuk beralih ke barang-barang affordable luxury di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sekilas mengenai Lipstick Effect, istilah ini mulai dikenal luas pada tahun 2001 di Amerika Serikat setelah penjualan lipstik Estée Lauder meningkat tajam pasca peristiwa 9/11. Di tengah gejolak ekonomi yang melanda AS, barang luxury seperti lipstik kelas atas justru tetap diminati dan mencatat penjualan yang kuat.

Di Indonesia, fenomena ini juga didorong oleh konsumsi yang berkaitan dengan emosional konsumen. Barang affordable luxury sering kali dibeli sebagai bentuk self-reward untuk memperoleh kepuasan di tengah tekanan ekonomi.

Konsep self-reward saat ini tidak hanya terbatas pada pembelian barang, tetapi juga belanja pengalaman, seperti menonton konser, membeli blind box, hingga mengunjungi tempat makan atau coffeeshop yang sedang tren. 

Sebagai refleksi, salah satu pemain ritel dengan produk utama blind box asal Tiongkok melaporkan bahwa laba bersih meningkat hingga 397% (yoy) secara global pada tahun 2025. Di Indonesia, perusahaan tersebut telah mengoperasikan sembilan gerai dan turut memperluas penjualan melalui official store di berbagai platform e-commerce

Pada akhirnya, pergeseran pola konsumsi ini perlu dipandang sebagai ancaman, ketimbang peluang jika terjadi berlarut-larut, karena kondisi ini diprediksi akan meningkatkan ketergantungan pada utang konsumtif, serta melemahkan ketahanan finansial masyarakat.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/pelemahan-daya-beli-atau-pergeseran-pola-konsumsi-sebuah-perspektif-dari-perilaku-gen-z/4898

https://kfmap.asia/blog/sepak-terjang-fb-asing-yang-menggeliat-di-indonesia/4791
https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/

https://www.bloombergtechnoz.com/

https://money.kompas.com/

https://ekonomi.bisnis.com/

https://nextindonesia.id/

https://ukmindonesia.id/

https://www.kompas.id/

Share:
Back to Blogs