Menurut data dari NielsenIQ, Gen Z menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar dengan kontribusi pengeluaran yang diperkirakan mencapai sekitar 18% dari total belanja global. Hal ini turut didorong oleh pesatnya digitalisasi ekonomi, yang menempatkan Gen Z sebagai pengguna sekaligus pendorong utama dalam ekosistem tersebut. Kemudahan berbelanja melalui platform e-commerce menjadi salah satu pembentuk perilaku belanja online.
Pola perilaku belanja gen z juga memberikan pengaruh terhadap pergeseran fungsi retail di Jakarta saat ini, yaitu kunjungan ke pusat perbelanjaan yang tidak lagi untuk bertransaksi saja, tetapi juga mencari pengalaman yang baru, unik, dan menarik.
Bicara soal pengalaman, Gen Z merupakan generasi yang paling dominan dalam konsumsi berbasis pengalaman. Dibandingkan generasi lainnya, Gen Z menyumbang lebih dari 50% terhadap pengeluaran untuk kategori ini, berdasarkan laporan ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 dari UOB.
Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan “pengalaman” mencakup berbagai aktivitas, seperti menonton konser, menonton bioskop, membeli blind box, hingga self-reward dalam bentuk wisata perkotaan, misalnya mencoba makanan viral atau mengunjungi coffee shop yang sedang tren.
Dari sini, terlihat adanya pergeseran pola konsumsi yang didorong oleh Gen Z, di mana mereka cenderung memprioritaskan pengeluaran berbasis pengalaman dibandingkan kepemilikan aset. Pengalaman ini pada umumnya tidak dapat dikategorikan sebagai aset karena tidak memiliki bentuk fisik maupun nilai ekonomis yang dapat diukur secara langsung. Sebaliknya, aset yang dimaksud merujuk pada aset berwujud seperti properti, kendaraan, maupun instrumen investasi lainnya yang memiliki nilai dan potensi manfaat ekonomi di masa depan.
Gen Z tetap menunjukkan kecenderungan berhemat untuk mempersiapkan masa depan, meskipun konsumsi berbasis pengalaman meningkat. Sebagian pengeluaran tetap dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Laporan ACSS oleh UOB juga mengindikasikan bahwa tekanan biaya hidup membuat konsumen lebih selektif, menunda pembelian besar, mengurangi belanja non-esensial, dan mencari promo, namun tetap optimis dengan menyesuaikan prioritas, bukan menghentikan konsumsi.
Fenomena lain yang ditemui dan memberikan pergeseran pada dinamika pertumbuhan sektor ritel adalah Lipstick Effect, yaitu kecenderungan konsumen di ruang ritel yang tetap membeli produk kecil (kebutuhan tersier) yang bersifat “kemewahan terjangkau” di tengah kondisi ekonomi yang melemah. Contohnya terlihat pada pembelian lipstick, blind box, hingga pengeluaran untuk self-reward, meskipun tekanan ekonomi global masih berlangsung. Fenomena ini menjadi bentuk bertahan dari konsumen di tengah kemampuan daya belinya yang melemah.
Pada akhirnya, peritel dan pemangku kepentingan perlu lebih cermat dalam mengantisipasi pergeseran yang terjadi. Sementara itu, dalam jangka panjang, diperlukan stimulan positif dari Pemerintah sehingga konsumen lebih percaya diri dalam melakukan berbagai transaksi di ruang ritel.
Penulis: Jovan Rafkhansa
Sumber:
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818
https://theconversation.com/
https://www.idntimes.com/
https://konstruksimedia.com/
https://www.fortuneidn.com/