Tekanan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar pada pertengahan Mei 2026. Berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mencapai Rp17.754,33. Pelemahan ini mulai memberikan tekanan nyata terhadap sektor properti, terutama pada biaya pembangunan proyek yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor.
Dalam industri properti, sejumlah material dan perangkat konstruksi seperti baja struktural, lift, perangkat HVAC, hingga komponen mekanikal-elektrikal masih banyak didatangkan dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan material tersebut ikut meningkat dan berdampak langsung pada anggaran pembangunan developer.
Ketergantungan impor pada sektor konstruksi juga masih tergolong besar. Data perdagangan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor mesin dan peralatan mekanis Indonesia mencapai sekitar US$2,8 miliar. Sementara itu, impor mesin dan perlengkapan elektrik mencapai sekitar US$2,35 miliar. Di sisi lain, impor barang dari besi dan baja juga tercatat mencapai lebih dari US$311 juta. Komponen-komponen tersebut banyak digunakan dalam pembangunan gedung, apartemen, pusat perbelanjaan, hingga proyek perkantoran.
Kondisi ini mulai mendorong developer melakukan penyesuaian strategi pembangunan. Penggunaan material lokal kini semakin dioptimalkan untuk menjaga biaya proyek tetap lebih terkendali di tengah fluktuasi kurs yang masih tinggi. Langkah ini terutama terlihat pada proyek hunian middle market yang lebih sensitif terhadap kenaikan harga jual.
Selain penggunaan material lokal, developer juga mulai melakukan efisiensi pada desain dan spesifikasi bangunan. Penyesuaian material finishing, pemilihan supplier domestik, hingga optimalisasi desain konstruksi menjadi langkah yang semakin banyak dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor.
Tekanan pelemahan rupiah juga berdampak pada marketing sales perumahan secara umum. Sejumlah developer mengakui bahwa marketing sales pada kuartal I-2026 mengalami perlambatan.
Di sisi lain, pasar hunian middle market masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Rumah dengan rentang harga Rp800 juta hingga Rp1,5 miliar masih menjadi segmen dengan permintaan paling stabil sepanjang 2026. Kondisi ini membuat developer lebih fokus menjaga keterjangkauan harga dibandingkan dengan menggunakan spesifikasi premium berbasis impor.
Langkah efisiensi tersebut juga sejalan dengan dorongan pemerintah melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang terus diperkuat pada sektor konstruksi dan infrastruktur. Penggunaan material lokal dinilai mampu membantu industri properti mengurangi tekanan biaya pembangunan sekaligus menjaga stabilitas proyek di tengah ketidakpastian nilai tukar.
Pada akhirnya, pelemahan rupiah kini tidak hanya memengaruhi biaya pembangunan proyek, tetapi juga mulai mengubah strategi pengembang dalam merancang properti. Di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung, efisiensi konstruksi dan pengurangan ketergantungan impor mulai menjadi salah satu kunci utama agar proyek properti tetap berjalan dan pasar tetap terjaga.
Penulis: Alya Arifa
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/dampak-depresiasi-rupiah-ke-sektor-properti/4867
https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/transaksi-bi/default.aspx
https://www.kontan.co.id/
https://www.kompas.com/
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.bps.go.id/id