Saat ini, memiliki rumah pribadi dipandang sebagai hal yang istimewa layaknya mimpi besar, namun dikelilingi oleh keraguan karena memiliki rumah dirasa sulit terjangkau, terutama bagi masyarakat urban.
Menurut laporan Knight Frank Asia-Pacific Horizon 2026 bertajuk “From Niche to Core: Why Asia-Pacific Living Sectors are Entering the Mainstream”, kondisi ini didorong oleh dua tekanan struktural yang saling berkaitan, yakni harga rumah yang terus melambung dan ketimpangan antara pasokan dan permintaan yang terus tumbuh.
Laporan Knight Frank tersebut memberikan gambaran mengenai jumlah tahun kerja yang dibutuhkan untuk membeli rumah, seperti warga Hong Kong yang membutuhkan 23,4 tahun dan warga Singapura yang membutuhkan waktu 16,9 tahun, sementara rata-rata di Asia-Pasifik berada pada 11,4 tahun (berdasarkan ULI Asia-Pacific Home Attainability Index, tahun 2025).
Sementara di sisi pasokan, biaya konstruksi melonjak sejak tahun 2019, dengan Australia naik 38,9% dan Singapura naik 38,8%, di tengah keterbatasan lahan di kota-kota besar. Akibatnya, tingkat kekosongan hunian sewa di Australia tertekan hingga hanya sekitar 1%, jauh di bawah 3% yang dianggap sebagai kondisi pasar sehat.
Menghadapi dua tekanan ini, masyarakat pun beradaptasi dengan menggeser preferensi hunian. Alih-alih menunggu mampu membeli rumah, banyak yang memilih format sewa yang lebih fleksibel, seperti co-living dengan private room dan fasilitas bersama, build-to-rent yang dikelola pihak profesional, hingga hunian adaptive reuse (seperti hotel yang dikonversi menjadi asrama pelajar).
Yang menarik, batas antara format hunian sewa ini kian kabur. Dalam laporan Knight Frank Asia-Pacific Horizon 2026, hal ini disebut "blurring between formats". Co-living kini tak hanya dihuni oleh profesional muda, tetapi juga mahasiswa yang tinggal di hunian sewa dengan adopsi fasilitas selevel dengan apartemen komersial. Kemudian, hunian sewa bagi keluarga, kini kerap menambahkan fitur ala hotel, seperti ruang kerja bersama dan area komunal. Mencerminkan penyewa yang tidak lagi terikat pada satu jenis hunian sepanjang hidupnya, melainkan berpindah format sesuai fase dan kebutuhan.
Singapura menjadi contoh bagaimana pergeseran ini terjadi secara nyata. Kelvin Lim, Executive Chairman LHN Limited sekaligus CEO Coliwoo Holdings, menjelaskan bahwa co-living di negaranya berkembang dari sekadar konversi ruko kecil menjadi sektor dengan lebih dari 9.000 kamar. Pendorongnya sama seperti di kawasan lain, yaitu harga sewa rumah tinggal yang naik 29,7% pada tahun 2022, yang membuat co-living dengan harga dan fasilitas lengkap menjadi pilihan alternatif.
Pola serupa mulai terlihat di Indonesia. BPS mencatat backlog kepemilikan rumah nasional mencapai 9,29 juta rumah tangga pada tahun 2026. Di tengah gap ini, co-living mulai digemari kaum muda perkotaan. Dilansir dari Detik.com, dalam pertemuannya dengan Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo, pada 9 Maret 2026, disampaikan bahwa penghuni Cove sebagian besar terdiri dari Gen Z dan Millennial, dengan sebanyak 38% berusia 18-24 tahun, 46% berusia 25-34 tahun, 11% berusia Millennial, dan sisanya berusia di atas 45 tahun.
Operator seperti Cove sendiri telah mengelola sekitar 7.600 kamar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali sejak tahun 2020. Skalanya memang masih jauh dari Singapura, namun arah pergeseran perilakunya serupa karena masyarakat mulai memandang hunian sewa sebagai solusi realistis, bukan lagi sekadar pilihan sementara.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://apac.knightfrank.com/livingsector
https://pkp.go.id/berita
https://www.detik.com/