Memasuki pertengahan tahun 2026, kenaikan harga rumah di Indonesia bergerak perlahan, setelah sempat tumbuh stabil pada tahun sebelumnya. Kondisi ini mengacu pada data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang dirilis oleh Bank Indonesia, menunjukkan bahwa harga properti residensial di pasar primer pada Q1 2026 hanya tumbuh 0,62% YoY, atau sedikit melambat dibandingkan dengan periode Q4 2025 yang tumbuh 0,83% YoY.
Data ini selaras dengan temuan Knight Frank dalam laporan Global House Price Index edisi Q1 2026, yang mencatat pertumbuhan harga rumah Indonesia sekitar 0,6% YoY, menempatkan Indonesia di peringkat ke-46 dari 55 pasar residensial yang dipantau di seluruh dunia. Kesamaan angka dari dua sumber yang berbeda ini memperkuat validitas data bahwa perlambatan harga properti di Tanah Air memang benar terjadi.
Meski begitu, pola perlambatan ini bukan fenomena yang berdiri sendiri di Indonesia, melainkan bagian dari tren yang lebih luas di pasar properti dunia. Knight Frank mencatat rata-rata pertumbuhan harga rumah nominal di 55 pasar global melambat menjadi 1,4% pada Q1 2026, turun dari 2,3% pada Q4 2025, dan menjadi capaian terlemah sejak Q3 2024.
Walau melambat, sebanyak 91% pasar residensial di dunia tetap tumbuh positif, meningkat dari 87% pada Q4 2025. Artinya, perlambatan tidak berarti harga rumah anjlok secara luas, melainkan laju kenaikannya yang mengendur secara serentak di berbagai negara.
Kondisi ini turut didukung oleh tren pelonggaran moneter global. Selama Triwulan I 2026, bank-bank sentral utama dunia lebih banyak memangkas suku bunga (11 kali) dibandingkan menaikkannya (4 kali), sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, Liam Bailey selaku Kepala Riset Global Knight Frank, menekankan bahwa dampak penurunan suku bunga terhadap permintaan perumahan kini semakin beragam di setiap pasar, sementara pertumbuhan harga rumah secara riil (setelah disesuaikan dengan inflasi) masih tertekan.
Hal tersebut tercermin dalam Global House Price Index edisi Q1 2026 yang menunjukkan indeks harga rumah riil global turun 1,7% YoY pada Q1 2026, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan 0,3% YoY pada Q4 2025. Namun, penurunan harga rumah secara riil tidak serta-merta membuat rumah menjadi lebih terjangkau. Di banyak negara, harga rumah masih berada pada level yang relatif tinggi, sementara kemampuan masyarakat untuk membeli rumah masih tertekan oleh inflasi, tingginya biaya hidup, serta suku bunga kredit yang belum sepenuhnya turun.
Tren tersebut tercermin di Indonesia. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat penjualan rumah di pasar primer turun 25,67% YoY pada Q1 2026, berbalik dari pertumbuhan 7,83% YoY pada triwulan sebelumnya. Pelemahan terutama terjadi pada rumah tipe kecil yang terkontraksi 45,59% YoY dan rumah tipe besar yang turun 8,03% YoY, sementara penjualan rumah tipe menengah justru tumbuh 8,28% YoY.
Saat ini, fokus pengembang terletak pada segmen menengah yang masih menunjukkan permintaan positif di tengah pelemahan segmen lain, mencerminkan pergeseran preferensi pasar yang perlu dipertimbangkan dalam strategi bisnis ke depan.
Selain itu, arah suku bunga acuan, akses pembiayaan KPR, serta pemulihan daya beli masyarakat akan menjadi faktor penentu apakah tren pertumbuhan harga yang tipis ini akan segera membaik atau justru bertahan lebih lama, seiring dengan dinamika yang juga tengah terjadi di pasar properti global.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://kfmap.asia/research/global-house-price-index-q1-2026/5110
https://kfmap.asia/blog/rumah-dengan-harga-terjangkau-dibutuhkan-namun-mengapa-penjualannya-melambat/5031
https://kfmap.asia/blog/kelas-menengah-di-q1-2026-masih-menopang-properti-residensial-indonesia/4992
https://www.bi.go.id/