Dinamika F&B yang Diprediksi Akan Terus Mendominasi Pasar Ritel Jakarta

Friday, 14 August 2026

Tenant sektor F&B kini semakin bertumbuh di pasar ritel Jakarta. Pertumbuhannya tidak hanya terlihat pada ritel besar seperti pusat perbelanjaan dan berbagai jenis mal, tetapi juga pada distrik komersial yang dipenuhi oleh ruko, seperti Blok M, yang turut diramaikan oleh sektor yang sama.

Selama satu tahun terakhir, F&B menjadi sektor dengan jumlah tenant baru terbesar. Knight Frank Indonesia dalam Jakarta Property Highlight mengatakan hampir separuh dari jumlah tenant baru di mal Jakarta merupakan tenant sektor F&B. Angka tersebut bahkan belum memperhitungkan pertumbuhan stand-alone retail maupun ruko-ruko yang berada di berbagai distrik komersial Jakarta.

Di bawah F&B, persebaran sektor tenant lainnya cenderung lebih beragam dan mengikuti tren yang sedang berkembang. Salah satunya adalah sportswear yang tahun lalu cukup gencar memasuki pasar seiring dengan meningkatnya aktivitas olahraga dan wellness, seperti padel, tenis, yoga, dan pilates. Selain itu, sektor beauty and personal care juga mulai menunjukkan pertumbuhan dengan berbagai segmen yang semakin beragam. 

Persebaran asal tenant F&B juga menjadi fenomena yang menarik. Tenant F&B lokal masih menguasai pasar hingga saat ini tanpa memandang segmen ritel di Jakarta. Meskipun tenant asing kerap lebih banyak mendapatkan perhatian dan menjadi pembicaraan di pasar, pertumbuhan dan ekspansi tenant F&B lokal justru terlihat lebih masif.

Perlu diketahui bahwa tenant F&B lokal dalam konteks ini dinilai berdasarkan kepemilikan brand yang berasal dari Indonesia. Namun, jika melihat lebih dekat, tenant F&B lokal tidak selalu menawarkan produk yang identik dengan kuliner Indonesia. Sebagian besar justru menjual hidangan yang terinspirasi dari berbagai negara, seperti AS, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok, maupun hasil perpaduan atau fusion dari berbagai hidangan khas negara lain.

Melihat dinamika tersebut, ritel F&B kini tidak hanya berperan sebagai kebutuhan primer, atau makan minum. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan ini juga dapat diposisikan sebagai kebutuhan tersier jika diikuti dengan hiburan atau pengalaman yang diburu, sangat bergantung pada bagaimana konsumen menilai produk dan pengalaman belanja secara psikologis. 

Fenomena lipstick effect yang tengah berkembang turut mendorong konsumsi terhadap produk F&B dengan harga yang relatif tinggi, seperti kopi, matcha, burger, dan lainnya. Bagi sebagian konsumen, produk-produk tersebut tidak lagi semata-mata dibeli untuk memenuhi kebutuhan makan minum, tetapi juga sebagai bentuk konsumsi yang memberikan pengalaman, kesenangan, self-reward maupun lifestyle symbol.

Ke depannya, F&B diprediksi akan tetap memenuhi ruang ritel di Jakarta. Pertumbuhan akan didorong oleh ekspansi tenant lokal yang terus memperbanyak cabangnya maupun tenant asing yang melihat Jakarta sebagai pasar dengan potensi yang kuat. Beberapa brand asing juga telah mengonfirmasi rencana memasuki pasar ritel Jakarta, dengan produk yang beragam, mulai dari donat, cokelat, kopi dan makanan baik dari Italia maupun Jepang, kopi dari Tiongkok, hingga kafe bergaya kopitiam dari Malaysia.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber:

https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818

https://kfmap.asia/blog/yuk-kenali-pertumbuhan-sektor-fb-lokal/4962
https://kfmap.asia/blog/sepak-terjang-fb-asing-yang-menggeliat-di-indonesia/4791

https://kfmap.asia/blog/secangkir-kopi-sebagai-self-reward-memberi-warna-pada-dinamika-ritel-jakarta/5019
https://kfmap.asia/blog/mengenal-fenomena-lipstick-effect-yang-terjadi-di-indonesia/4993

Share:
Back to Blogs