Sepak Terjang F&B Asing yang Menggeliat di Indonesia

Wednesday, 18 March 2026

Akhir-akhir ini, sektor ritel di Indonesia semakin ramai dengan kedatangan gerai makanan dan minuman atau f&b dari berbagai negara. Mulai dari persaingan fragrant tea oleh Chagee, Teazzi, dan Molly Tea hingga “pertarungan” ceremonial matcha oleh Kurasu, The Matcha Tokyo, dan berbagai gerai lainnya. 

Geliat brand-brand tersebut mulai mewarnai sektor ritel dengan target pasar yang beragam. Kehadirannya tidak lagi terbatas pada ruko pinggir jalan, tetapi juga merambah pusat perbelanjaan premium di Jakarta. Data dari Singapore Momentum Works mengatakan bahwa lebih dari 6.000 gerai f&b asal tiongkok telah beroperasi di Asia Tenggara sepanjang tahun 2022 - 2025. Sebanyak dua pertiganya atau lebih dari 4.000 gerai telah memenuhi Indonesia dan Vietnam.

Knight Frank Indonesia dalam paparan Jakarta Property Highlights 2H 2025 mencatat bahwa sekitar 50% tenant baru di mal Jakarta berasal dari sektor f&b, dengan brand asal Tiongkok dan Jepang sebagai kontributor utama.

Ekspansi f&b asing, khususnya dari Tiongkok, tidak terlepas dari dinamika pasar di negara asalnya. Sejak tahun 2024, industri f&b di Tiongkok menghadapi kondisi oversupply yang disertai stagnasi permintaan domestik, sehingga memicu penutupan lebih dari satu juta gerai makanan dan minuman dari berbagai macam brand. Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk berekspansi ke pasar luar negeri, termasuk Indonesia.

Sejalan dengan ekspansi tersebut, pasar Indonesia menunjukkan penerimaan yang positif. Antusiasme konsumen, terutama kelas menengah, terhadap brand asing relatif tinggi. Meski daya beli masih mengalami tekanan, kecenderungan untuk tetap mengalokasikan pengeluaran pada konsumsi gaya hidup, seperti makan dan minum, masih cukup kuat menurut pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

Fenomena ini pada satu sisi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui masuknya investasi asing. Namun, di sisi lain, manfaat tersebut berpotensi lebih optimal apabila perputaran ekonomi juga didorong oleh pelaku lokal, khususnya UMKM.

Ruang-ruang ritel untuk pengembangan UMKM perlu menjadi perhatian, karena ketersediaan ruang yang adil bagi UMKM lokal akan memberikan ruang untuk tumbuh dan berdaya saing di tengah derasnya ekspansi brand asing. Dengan demikian, pertumbuhan sektor ritel f&b lokal dapat tumbuh lebih semarak dan merajai pasar di negeri sendiri.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://www.bbc.com/

https://finance.detik.com/

https://www.cnbcindonesia.com/

Share:
Back to Blogs