Setelah pandemi, sektor ritel di Jakarta, terutama kelas premium grade A dan grade A, tumbuh stabil setiap tahunnya. Hingga saat ini, ruang-ruang ritel di Jakarta telah terisi sekitar 78% oleh berbagai tenant. Tenan penyerap ruang tertinggi pada paruh kedua tahun 2025 berasal dari sektor makanan dan minuman (F&B), dengan kontribusi hampir mencapai 50% dari total penyerapan.
Kondisi di atas ditandai dengan keberadaan gerai F&B asing semakin menjamur, misalnya saja, bisnis artisan tea seperti Chagee, Teazzi, Molly Tea, Tianlala, dan Hey Tea, bisnis matcha seperti Kurasu dan The Matcha Tokyo, serta bisnis makanan seperti Burger and Lobster, Hikiniku To Come, Salmon Noodle 3.0, dan BHC Chicken.
Bahkan, data terbaru dari Singapore Momentum Works menyatakan bahwa Indonesia dan Vietnam menyerap sekitar 4.000 gerai hasil ekspansi sektor F&B asal Tiongkok, belum termasuk negara lain seperti Jepang, Korea, dan Eropa.
Lalu, bagaimana dengan performa F&B lokal dalam sektor ritel saat ini?
Melihat F&B asing yang berfokus mengisi mal Jakarta, F&B lokal justru memiliki persebaran yang lebih beragam, mulai dari retail space, ruko, hingga mal. F&B lokal berskala besar yang telah berkembang menjadi jaringan restoran nasional seperti Boga Group, Kawan Lama Group, serta Ismaya Group umumnya mengisi ruang ritel di mal, serupa dengan F&B asing. Sementara itu, F&B yang dilakukan oleh perintis dan pelaku UMKM lebih banyak berkembang di distrik komersial yang berperan sebagai third place, seperti Blok M dan Glodok.
Distrik tersebut menawarkan fleksibilitas ruang dan akses pasar yang lebih organik terhadap pelaku ritel. Misalnya saja, kawasan Blok M, yang kini berperan sebagai pusat gaya hidup Jakarta, didukung oleh berbagai perannya sebagai hub transportasi publik dari berbagai lokasi, termasuk daerah penyangga.
Wakil Gubernur DKI Jakarta juga menyampaikan bahwa traffic pengunjung pada akhir pekan di Blok M dapat melebihi 12.000 orang. Blok M juga menawarkan berbagai jenis ruang ritel dengan kisaran harga sewa yang beragam, mulai dari area pujasera atau foodcourt, area ritel Blok M Hub, ruko-ruko di kawasan Blok M, retail spaces yang dipenuhi pedagang kaki lima, hingga Pasaraya Blok M.
Beberapa tenant yang telah memulai usahanya di Blok M yaitu VGB (Very Good Brand) Hospitality yang terdiri dari Little, O.O Donuts, Neighbor Thai, dan Busy Cheesecake, Iron Fist, Ayam Renald, Artirasa, The Misoa Story, Fumo Chicken, dan sebagainya.
Sedangkan untuk F&B lokal berskala besar, tetap memenuhi ritel premium yaitu mal-mal di Jakarta dan juga stand alone retail. Selain itu, beberapa brand lokal telah ekspansi hingga luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Eropa, dan juga Amerika. Pada tahun 2024, Kementerian Luar Negeri mencatat setidaknya terdapat 1.221 restoran Indonesia yang hadir di pasar luar negeri.
Kopi Kenangan yang memulai ekspansinya pada tahun 2022, kini sudah memiliki lebih dari 150 gerai yang tersebar luas di Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Australia. Beberapa brand lainnya yang telah memperluas jaringannya di luar negeri yaitu Toko Kopi Tuku, Dua Coffee, Sour Sally, dan Fore.
Pada akhirnya, F&B lokal memiliki pertumbuhan yang kompetitif seperti halnya F&B asing. Pertumbuhannya pada ruang yang lebih beragam memposisikan F&B lokal dapat terjangkau oleh seluruh kalangan dengan berbagai brand yang tersedia. Selain pertumbuhan di dalam negeri, gerai-gerai lokal mulai terlihat di berbagai negara dan memiliki potensi menjadi kompetitor dari usaha lokal dari luar negeri.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818
https://kfmap.asia/blog/sepak-terjang-fb-asing-yang-menggeliat-di-indonesia/4791
https://kfmap.asia/blog/identitas-kota-dalam-sebuah-piring-wisata-kuliner-sebagai-identitas-kawasan-blok-m/4813
https://food.detik.com/
https://swa.co.id/
https://www.idntimes.com/
https://www.idxchannel.com/
https://thephrase.id/