Belakangan ini, media ramai membahas Lipstick Effect dan mengaitkannya dengan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. Lipstick Effect adalah terminologi yang umum digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu atau sulit, dan konsumen cenderung menahan diri untuk tidak membeli barang mewah dan mahal, namun konsumen tetap mengeluarkan uang untuk kesenangan kecil yang terjangkau secara harga, misalnya kosmetik, kopi, atau lainnya.
Secara psikologis, fenomena ini dianggap sebagai bentuk pelarian kecil, atau mood booster agar individu tetap memiliki kualitas hidup di tengah tekanan ekonomi saat ini.
Beberapa temuan dari Jakarta Property Highlight yang dirilis oleh Knight Frank Indonesia pada akhir 2025, terutama pada sektor ritel mengindikasikan kondisi yang sejalan dengan fenomena Lipstick Effect, diantaranya sebagai berikut,
Masih dari sumber yang sama juga diketahui bahwa, tenant baru di semester kedua tahun 2025 didominasi oleh sektor F&B, atau sekitar 50%. Sektor ini tidak hanya mengisi ruang ritel di kelas menengah ke atas, tetapi juga menengah ke bawah.
Peritel F&B tidak hanya datang dari lokal, tetapi juga mancanegara, sebut saja Chagee, Kurasu, Molly Tea yang mewarnai ruang ritel Jakarta saat ini bersama dengan Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Fore Coffee, dsb.
Ruang untuk tumbuh, saat ini masih dimiliki sektor F&B. Namun, perlu diantisipasi keberlanjutan pertumbuhannya, jika ketidakpastian kemampuan daya beli masyarakat terus tertekan.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818