Secangkir Kopi sebagai Self Reward Memberi Warna pada Dinamika Ritel Jakarta

Friday, 12 June 2026

Belakangan ini, media ramai membahas Lipstick Effect dan mengaitkannya dengan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. Lipstick Effect adalah terminologi yang umum digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu atau sulit, dan konsumen cenderung menahan diri untuk tidak membeli barang mewah dan mahal, namun konsumen tetap mengeluarkan uang untuk kesenangan kecil yang terjangkau secara harga, misalnya kosmetik, kopi, atau lainnya.

Secara psikologis, fenomena ini dianggap sebagai bentuk pelarian kecil, atau mood booster agar individu tetap memiliki kualitas hidup di tengah tekanan ekonomi saat ini. 

Beberapa temuan dari Jakarta Property Highlight yang dirilis oleh Knight Frank Indonesia pada akhir 2025, terutama pada sektor ritel mengindikasikan kondisi yang sejalan dengan fenomena Lipstick Effect, diantaranya sebagai berikut,

  • Pergeseran pemaknaan ritel bagi konsumen, tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi bergeser menjadi Lifestyle Hub. Area ritel, atau mal, menjadi destinasi untuk mencari pengalaman (makan, minum kopi, atau hiburan). Dengan pengalaman ini, orang seperti memberi  "hadiah kecil" yang menyenangkan untuk dirinya sendiri.

  • Ketahanan sektor F&B, yang saat ini menjadi penggerak utama permintaan sewa ruang ritel. Tren ini sejalan dengan Lipstick Effect, di mana konsumen mungkin menunda liburan mahal, namun tetap "berinvestasi" pada secangkir kopi premium atau makanan tren terbaru sebagai pelipur lara di tengah hari kerja yang menekan.

  • Selain itu, sektor ini tersedia dengan ragam varian dan rentang harga, disertai transformasi ruang yang menawarkan pengalaman yang berkesan untuk menjadi "tempat berkumpul" daripada sekadar tempat belanja.

  • Konsumsi yang selektif, artinya bahwa konsumen menerapkan preferensi, terutama untuk kebutuhan pokok dan pengalaman yang dianggap memberikan nilai emosional tinggi (seperti self-reward) akan tetap bertahan. Namun, tidak demikian untuk barang tahan lama atau yang bersifat tersier.

  • Affordable luxury, menjadi kunci dari tingginya perputaran barang atau komoditas di ruang ritel saat ini, seperti secangkir kopi fancy, premium matcha, healthy food, parfum lokal otentik, dsb. Komoditas ini diburu sebagai self-reward meski daya beli cukup tertekan.

Masih dari sumber yang sama juga diketahui bahwa, tenant baru di semester kedua tahun 2025 didominasi oleh sektor F&B, atau sekitar 50%. Sektor ini tidak hanya mengisi ruang ritel di kelas menengah ke atas, tetapi juga menengah ke bawah.

Peritel F&B tidak hanya datang dari lokal, tetapi juga mancanegara, sebut saja Chagee, Kurasu, Molly Tea yang mewarnai ruang ritel Jakarta saat ini bersama dengan Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Fore Coffee, dsb.

Ruang untuk tumbuh, saat ini masih dimiliki sektor F&B. Namun, perlu diantisipasi keberlanjutan pertumbuhannya, jika ketidakpastian kemampuan daya beli masyarakat terus tertekan.

 

Penulis : Syarifah Syaukat

Sumber :

https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818

Share:
Back to Blogs