Gastronomi kini tidak lagi dipandang sebagai kuliner semata, melainkan telah menjadi elemen penting dalam membentuk identitas dan citra kota. Ragam kuliner, pengalaman makan, serta interaksi sosial yang terjadi di ruang-ruang makan mencerminkan karakter budaya dan dinamika ruang suatu wilayah.
Dalam kajian tentang hubungan antara gastronomi dan kota, kuliner dipahami sebagai bagian dari “wajah budaya” yang memperkuat citra dan daya tarik kawasan, sekaligus menciptakan ruang sosial yang hidup dan inklusif.
Seiring dengan itu, gastronomi juga berkembang menjadi bagian dari industri pariwisata global yang signifikan. Tren culinary tourism menunjukkan pertumbuhan yang pesat, dengan nilai pasar global diperkirakan mencapai sekitar USD 1,25 triliun pada tahun 2025 dan berpotensi tumbuh hingga lebih dari USD 4 triliun pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang tinggi.
Angka di atas menegaskan bahwa pengalaman kuliner telah menjadi salah satu alasan utama perjalanan wisata, di samping atraksi konvensional lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa gastronomi tidak hanya berperan sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam menciptakan aktivitas dan pergerakan manusia di suatu kota.
Fenomena tersebut dapat diamati secara nyata di Jakarta Selatan, khususnya di kawasan Blok M. Kawasan ini mengalami transformasi menjadi salah satu food scene paling aktif di Jakarta, dengan kombinasi kuliner tradisional, restoran modern, hingga kafe-kafe yang kerap viral di media sosial. Aktivitas kuliner yang beragam ini mendorong tingginya trafik pejalan kaki, tidak hanya dari warga lokal, tetapi juga dari pengunjung luar kota yang datang khusus untuk mengeksplorasi pengalaman kuliner di area tersebut. Blok M pun berkembang menjadi destinasi tujuan dengan daya tarik khas.
Keberagaman kuliner di kawasan ini menciptakan multiplier effect terhadap dinamika pemanfaatan ruang di perkotaan. Kawasan yang memiliki food scene yang kuat cenderung memiliki aktivitas publik yang lebih intens, waktu kunjungan yang lebih panjang, serta interaksi sosial yang lebih tinggi. Hal ini berkontribusi pada persepsi warga terhadap kawasan sebagai lingkungan yang hidup, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi maupun ditinggali.
Pada akhirnya, perkembangan food scene di Blok M menunjukkan bagaimana gastronomi berperan lebih luas dari sekadar aktivitas kuliner. Ia menjadi bagian yang memperkuat identitas kawasan perkotaan. Ketika sebuah area mampu menawarkan pengalaman kuliner yang beragam dan menarik pengunjung, kawasan tersebut tidak hanya hidup secara sosial, tetapi juga semakin diminati sebagai lokasi untuk beraktivitas dan berinvestasi dalam jangka panjang.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/berburu-kuliner-jakarta-selatan-di-tengah-kawasan-hunian/4699
https://www.therooftopguide.com/
https://anuntico.com/