Setahun lalu, tepatnya pada liberation day, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor besar-besaran terhadap banyak negara mitra dagang. Kebijakan ini, yang disebut juga sebagai tarif resiprokal, memicu ketegangan global, terutama dengan China. Negosiasi yang berlarut-larut bahkan berkembang menjadi aksi saling balas menaikkan tarif hingga melampaui 140%.
Pada tahun ini, ketegangan yang sebelumnya memanas kini mulai mereda setelah Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa kebijakan tarif Trump tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Akibatnya, skema “tarif resiprokal” harus dibatalkan.
Meski begitu, Trump tetap mendorong penerapan tarif baru, dengan kisaran sekitar 10–15% secara global. Untuk China, tingkat tarif efektifnya tetap lebih tinggi, mencapai sekitar 33%, sehingga masih berada di atas negara-negara lainnya. Untuk barang-barang tertentu, tarif masih berada di kisaran 25%–100%, khususnya pada sektor seperti baja, baterai, EV, dan semikonduktor.
Subsektor properti industri menjadi pihak yang paling terdampak langsung, di mana tekanan tarif terhadap China sebagai pusat manufaktur global mendorong perusahaan menerapkan strategi China+1 dengan memindahkan sebagian produksi ke Asia Tenggara. Pergeseran ini sekaligus mempercepat perubahan atau diversifikasi rantai pasok global dan mengurangi ketergantungan pada satu negara sebagai basis produksi utama.
Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama yang diuntungkan dari dampak tarif AS, dengan meningkatnya arus relokasi industri ke kawasan ini. Dalam publikasi Jakarta Property Highlights oleh Knight Frank, tercatat bahwa Indonesia mengalami lonjakan minat investasi dari China, terutama ev-related. Hal ini tercermin dari masuknya pemain besar seperti BYD yang berinvestasi di Subang, serta CATL yang mengembangkan proyek di Halmahera dan koridor timur.
Menariknya, tren ini tidak hanya terpusat di koridor timur Greater Jakarta, tetapi mulai bergeser ke koridor barat, di mana kawasan seperti Modern Cikande Industrial Estate mencatat lonjakan penyerapan lahan industri yang signifikan secara tahunan, yang turut tercermin dari peningkatan pendapatan hingga 629% (yoy).
Pada akhirnya, relokasi industri global tidak serta-merta hanya disebabkan oleh faktor tarif semata. Terdapat berbagai faktor lain yang turut memengaruhi, seperti kebijakan dari berbagai negara di dunia, arah investasi, perbedaan spesialisasi industri di masing-masing negara, bahkan preferensi kedekatan antarnegara. Dengan begitu, arah pergeseran industri ke depan akan sangat ditentukan oleh faktor yang sifatnya multidimensi, namun tetap perlu diantisipasi dengan tepat.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/research/industrial-market-overview-2h-2025/4798
https://kfmap.asia/blog/menuju-resiliensi-di-tengah-gejolak-tarif/4023
https://kfmap.asia/blog/tarif-dan-ketidakpastian-global/3947
https://www.china-briefing.com/
https://www.cnbc.com/
https://www.idnfinancials.com/
https://www.cnbcindonesia.com/