Keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Januari 2026 bukan sekadar langkah teknis moneter. Di tengah lanskap global yang penuh ketidakpastian, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi prioritas utama sekaligus membuka ruang optimisme bagi sektor properti nasional.
Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tekanan eksternal memang sempat memicu pelemahan rupiah hingga menyentuh level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS pada Januari 2026. Namun, BI menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan dapat dikelola melalui bauran kebijakan.
Peluang penurunan suku bunga tetap terbuka, meski sangat bergantung pada perkembangan data ke depan. Inflasi yang masih terkendali, potensi masuknya arus modal asing, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang relatif solid menjadi faktor penopang optimisme tersebut. Untuk menjaga kepercayaan pasar, BI menegaskan kesiapan melakukan intervensi, baik di pasar non-deliverable forward (NDF), pasar spot, maupun pasar obligasi.
Dari sisi properti, keputusan BI menahan suku bunga 4,75% memberi kepastian bagi pengembang dan masyarakat yang ingin membeli rumah. Stabilitas suku bunga berarti cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) relatif terjaga, sehingga daya beli masyarakat khususnya segmen menengah tidak tertekan secara signifikan. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kepastian pembiayaan menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan membeli properti.
Peluang penurunan suku bunga di masa mendatang juga menciptakan sentimen positif di pasar. Banyak pengembang melihat 2026 sebagai waktu untuk bersiap dan mengembangkan proyek baru, terutama hunian terjangkau, kawasan campuran, dan properti dekat transportasi. Jika suku bunga benar-benar turun berpotensi mendorong lonjakan permintaan, baik dari pembeli rumah pertama maupun investor.
Meski begitu, tantangan global masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat menjadi sekitar 3,2% akibat ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan kebijakan AS. Di sisi lain, ekonomi AS masih ditopang sektor teknologi, meski ruang penurunan suku bunga global makin sempit.
Dalam kondisi ini, keputusan BI menahan suku bunga di 4,75% membantu menjaga kestabilan ekonomi di tengah situasi global yang tidak menentu. Bagi sektor properti, kebijakan ini bukan hanya menahan risiko, tetapi juga membuka peluang. Dengan strategi yang tepat dan responsif terhadap perubahan, pasar properti berpeluang tetap tumbuh meski di tengah arus ketidakpastian ekonomi dunia.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://www.bi.go.id/
https://propertytimes.id/
https://money.kompas.com/
https://www.indopremier.com/