Baru-baru ini, salah satu perusahaan FMCG multinasional digemparkan oleh kerugian yang besar akibat kasus kejahatan logistik. Sebuah pencurian dilakukan terhadap 12 ton cokelat yang setara dengan lebih dari 400 ribu batang cokelat oleh pelaku yang belum diketahui hingga saat ini.
Kronologi kejadian bermula dari pengiriman yang telah direncanakan menggunakan truk bermuatan besar dari Polandia menuju Italia. Pengiriman ini merupakan bagian dari rantai pasok yang telah ditetapkan untuk memenuhi permintaan regional, sehingga merupakan aktivitas yang rutin dilakukan.
Namun, dalam perjalanannya, truk tersebut dilaporkan hilang tanpa jejak. Hingga saat ini belum ada kepastian mengenai penyebab hilangnya kendaraan tersebut, tetapi perusahaan memiliki dugaan kuat bahwa insiden ini merupakan kasus pencurian logistik yang telah direncanakan.
Dari kasus ini, perusahaan FMCG perlu belajar pentingnya memastikan aktivitas logistik yang aman secara fisik dan sistem (digital). Meskipun kejadian ini terjadi di benua Eropa, risiko serupa berpotensi terjadi di wilayah lain, termasuk Indonesia.
Knight Frank Indonesia melalui Jakarta Property Highlight Industrial Market Overview 2H 2025 mengatakan bahwa, FMCG merupakan salah satu sektor teratas yang menyerap lahan industri di Greater Jakarta pada akhir tahun 2025. Oleh karena itu, aktivitas logistik FMCG di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat.
Untuk mencegah kejadian serupa, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan dalam aktivitas logistik FMCG, antara lain:
Selain pencegahan, ada juga cara untuk melacak produk yang dicuri. Produk FMCG seperti cokelat biasanya cepat terjual ke konsumen. Oleh karena itu, penggunaan kode seri unik pada setiap produk menjadi penting agar asal-usulnya bisa diketahui dan produk hasil curian dapat dilacak. Apalagi menjelang Hari Libur, biasanya permintaan cokelat meningkat, sehingga pelacakan diharapkan bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Pada akhirnya, kerugian dalam kasus ini tetap nyata meskipun perusahaan mungkin memperoleh keuntungan dari sisi PR. Untuk meminimalkan kasus serupa terjadi di perusahaan lain, penting untuk mengupayakan pencegahan ini agar aktivitas logistik tetap berjalan dengan aman dan sistematis. Dengan ini, rantai pasok yang dilakukan juga tidak terhalang disrupsi yang merugikan berbagai pihak.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/research/industrial-market-overview-2h-2025/4798
https://tirto.id/
https://sumsub.com/
https://edition.cnn.com/
https://www.transportworks.com/
https://irmapa.org/
https://blog.easygo-gps.co.id/