Knight Frank Global baru saja merilis publikasi tahunannya yang bertajuk The Wealth Report 2026. Selain membahas pertumbuhan High Net Worth Individual (HNWI) dan Ultra High Net Worth Individual (UHNWI), publikasi ini juga mengulas tren dan pandangan terhadap “kekayaan” yang terjadi di dunia. Salah satunya adalah plutonomy yang dipercayai dapat membentuk pasar properti global.
Apa yang dimaksud dengan Plutonomi?
Plutonomi merupakan gabungan dari kata "plutocracy" dan “economy”. Plutocracy atau rule of the rich dapat diartikan sebagai kekayaan yang dikuasai oleh kelompok masyarakat kelas atas. Istilah plutonomi dapat didefinisikan sebagai kondisi masyarakat (society) yang dikendalikan oleh kelompok masyarakat dengan kekayaan tertinggi, sehingga pertumbuhan ekonomi bergantung pada kelompok minoritas tersebut.
Dalam segi properti, Knight Frank mengaitkan fenomena ini dengan pertumbuhan pasar properti mewah. Hunian premium (trophy homes) dan lokasi prestisius menjadi simbol pertumbuhan tersebut. Sebut saja, One Hyde Park yang merupakan salah satu komplek perumahan elit di London. Residensial tipe penthouse yang memiliki ukuran 1.600 meter persegi ini dijual dengan harga berkisar US$222 juta atau Rp3,6 triliun. Dalam konteks lokal, Menteng dan Pondok Indah menjadi salah satu submarket yang memiliki pertumbuhan properti residensial mewah seperti One Hyde Park.
Secara umum, Plutonomi terjadi disebabkan oleh beberapa faktor pendorong, antara lain:
Dalam publikasi ini, terdapat beberapa pendapat dari berbagai ahli dengan bidangnya masing-masing. David Poole (Former Head of Citi Private Bank) mengatakan bahwa pertumbuhan crazy rich hanya terkonsentrasi pada kelompok teratas piramida kekayaan sehingga terjadi ketimpangan antar kelompok masyarakat.
Andrew Hay (Former Global Head of Residential at Knight Frank) juga mengatakan bahwa kelompok minoritas tersebut semakin fokus memperbesar investasi dan aset mereka, salah satunya adalah melakukan diversifikasi aset properti secara defensif di negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kepastian hukum yang tinggi.
Jonathan Goldstein (CEO of Cain) berpendapat bahwa pertumbuhan kekayaan global dapat menciptakan peluang besar bagi sektor properti mewah. Hal ini juga didukung oleh pergeseran pola konsumsi masyarakat yang lebih memprioritaskan pengalaman eksklusif, privat, dan berkelas tinggi sehingga HNWI/UHNWI atau crazy rich lebih mengutamakan properti kelas atas seperti branded residences, elite hotel, juga private clubs. Goldstein juga meyakini bahwa pasar ultra luxury akan terus tumbuh dalam jangka panjang karena daya beli kelompok masyarakat kelas atas dinilai masih sangat kuat dan terus berkembang.
Dari ketiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa properti mewah memang dikendalikan oleh pertumbuhan HNWI dan UHNWI. Namun, ketiganya juga menyadari bahwa pertumbuhan ini memunculkan konsekuensi bagi kelompok masyarakat kelas bawah di mana tekanan sosial dan politik akan semakin besar bagi mereka.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895
https://kfmap.asia/blog/bagaimana-prediksi-the-wealth-report-2026-terkait-indonesia/4915
https://voi.id/
https://www.tempo.co/
https://www.linkedin.com/