Menteng, Impian Hunian Elit yang Kian Langka

Sunday, 18 January 2026

Sebagian besar masyarakat Jakarta mungkin pernah memiliki cita-cita untuk tinggal di kawasan elit Jakarta, salah satunya Menteng. Kawasan ini kerap dipersepsikan sebagai simbol prestise, kemapanan, dan sejarah panjang kelas atas ibu kota. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, impian tersebut perlahan memudar bagi sebagian orang karena tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup, serta realitas sosial.

Bukan tanpa alasan, harga lahan di Menteng saat ini sudah mencapai Rp100 juta per meter persegi. Bahkan, pada lokasi-lokasi tertentu, nilai tersebut dapat melonjak hingga Rp150 juta per meter persegi, mencerminkan prestise dan tingginya permintaan di kawasan ini.

Sejalan dengan hal tersebut, salah satu lembaga survei properti menyebutkan bahwa, tren pasar hunian tapak menunjukkan adanya pergeseran, yaitu permintaan hunian premium (dengan harga di atas Rp3 miliar) meningkat sekitar 17% di kota satelit Jakarta seperti Sentul, Tangerang, Bekasi, hingga Bogor. 

Namun, keinginan untuk memiliki rumah di pusat kota Jakarta tidak pernah sirna.

Sekilas sejarah mengenai Menteng, salah satu kawasan prestisius di Jakarta, kawasan ini sejak awal dirancang sebagai hunian elit pada era kolonial Belanda. Pengembangannya berkaitan erat dengan pemindahan pusat kota dari Batavia ke Weltevreden akibat wabah malaria dan dinamika sosial saat itu. Untuk menunjang kebutuhan hunian para pejabat pemerintahan, Menteng kemudian dikembangkan sebagai Garden City pertama di Indonesia dengan memadukan kualitas hidup yang tinggi dan elemen ruang hijau.

Hingga saat ini, kawasan tersebut masih menjadi kawasan prestisius dengan alasan-alasan sebagai berikut.

  1. Lokasi Sangat Strategis
    Golden Triangle Jakarta menjadi salah satu alasan Menteng begitu prestisius diantara kawasan lainnya. Aksesibilitas yang tinggi terhadap pusat bisnis, transportasi umum (KRL Bundaran HI, MRT Bundaran HI, lin BRT dan juga non BRT), dan fasilitas umum/sosial lainnya. 

  2. Termasuk Cagar Budaya
    Sejak tahun 1975, Jakarta melalui Surat Keputusan Gubernur No.D.IV-6098/d/33/1975 telah menetapkan Menteng sebagai cagar budaya, kawasan ini masih mempertahankan peninggalan era kolonial dan elemen hijau dari penataan garden city yang membuat kawasan ini hijau dan sejuk.

  3. Perputaran properti yang terbatas
    Meskipun terletak di Segitiga Emas Jakarta, Menteng termasuk dalam daerah yang jarang melakukan aktivitas transaksional properti. Statusnya masih cagar budaya dan dominasi rumah dengan halaman besar menjadikan lahan di kawasan ini sangat langka. Nilai lahan yang sangat mahal juga menjadikan salah satu alasannya.

Walaupun pasokan terbatas, beberapa rumah di daerah Menteng yang saat ini tengah dipasarkan. Detil terkait rumah tersebut bisa diakses dengan klik disini

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber :

https://kfmap.asia/services/general-agency/residential/sale/for-sale-house-maluku-menteng-jakarta 

https://kfmap.asia/blog/pengaruh-citra-eksklusif-kawasan-menteng-terhadap-tingginya-harga-tanah/4127

https://kfmap.asia/blog/tembus-100-juta-per-meter-ini-alasan-menteng-tetap-jadi-kawasan-paling-mahal-di-jakarta/4097

https://www.detik.com/

https://www.historia.id/

https://www.topbusiness.id/

https://www.inilah.com/

Share:
Back to Blogs