Pergeseran Lanskap Ritel Global, Dimana Posisi Indonesia?

Friday, 3 July 2026

Di tengah fragmentasi ekonomi global dan perubahan perilaku konsumsi, subsektor ritel menjadi salah satu indikator di sektor properti paling nyata dalam membaca arah pergeseran pasar yang menjadi cerminan real market.

Dalam dinamika ritel pada tataran global, digitalisasi telah mengubah lanskap sektor ritel saat ini yang tengah bertransformasi menjadi Ritel 5.0 (five point O), yaitu fase personalisasi konsumen tingkat lanjut, yang mengintegrasikan teknologi AI dengan menggunakan data pengalaman belanja konsumen untuk memberikan layanan personal, sehingga berbagai produk dalam tangkapan layar gadget konsumen sudah disesuaikan dengan profil dan preferensi konsumen. Tren ini memposisikan customer is king.

Sementara itu, di Jakarta saat ini, tingkat okupansi ritel menunjukkan tren pemulihan yang konsisten dalam dua tahun terakhir, dengan rata-rata okupansi berada pada kisaran 75%–80%, didorong oleh kembalinya aktivitas masyarakat dan ekspansi tenant yang mendominasi segmen F&B serta lifestyle.

Dinamika pasar ritel Jakarta juga tengah mengalami transformasi di berbagai lini, salah satunya didorong oleh penerapan teknologi dan digitalisasi.

Digitalisasi, telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap transformasi ritel pada sistem pembayaran. Di Indonesia saat ini setidaknya pembayaran digital telah dilakukan oleh 200 juta warga negara Indonesia, dengan pertumbuhan pelaku pembayaran digital setiap tahunnya bertumbuh sekitar 30–40%. 

Transformasi digital tidak hanya berhenti pada sistem pembayaran dan pengalaman belanja, tetapi juga mulai merambah pada sistem distribusi barang melalui konsep retail-logistics integration.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masa depan ritel tidak hanya pengalaman di dalam ruang fisik, tetapi juga oleh efisiensi ekosistem distribusi yang mendukungnya. Bahkan beberapa kota di Asia saat ini tengah bergerak menuju tren retail-logistics hybrid hub, di antaranya melalui layanan antar dengan drone dalam praktik Low Altitude Economy (LAE).

Low-altitude economy (LAE) adalah kegiatan komersial yang dilakukan pada ketinggian udara rendah, sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan tanah. LAE dengan menggunakan drone mulai beroperasi untuk layanan di sektor ritel, seperti layanan pesan antar, perkebunan, industri, pengamatan lingkungan hidup, tata ruang, dsb.

Di Hong Kong saat ini, praktik Low-Altitude Economy (LAE) telah bergulir, bahkan Hong Kong saat ini berencana mengambil peran sebagai hub inovasi dari kegiatan low-altitude Economy di Asia Pasifik.

Bahkan di China, beberapa kota telah menjadi benchmark global dalam operasional drone untuk layanan komersial. Misalnya saja di kota Shenzhen, Guangzhou, dan Chengdu. Di Shenzhen, layanan drone digunakan untuk pengiriman makanan dan ritel, dengan bentuk operasional drone yang akan terbang dari drone hub (atap mal/kantor) ke titik drop box, dengan waktu kirim lebih singkat daripada layanan kurir darat.  

Dalam prosesnya, konsumen dapat melakukan order via aplikasi dan kemudian memilih jenis pengiriman ‘drone delivery’. Kemudian barang akan dikirim ke kiosk pickup, bukan langsung ke tangan konsumen. Jadi, model layanan drone dalam LAE ini bukan menggantikan kurir, melainkan hybrid last mile (drone dan manusia). Layanan ini umumnya berlaku di wilayah perkotaan.

Dalam jangka panjang, drone sebagai layanan hybrid dalam operasional ritel diperlukan di Indonesia, mengingat wilayah Indonesia terdiri dari gugusan kepulauan yang tersebar di antara samudra. Sehingga transformasi ritel menuju retail-logistics hybrid hub dibutuhkan dengan konektivitas yang prima di antara bentang laut-darat-udara.

Dengan basis konsumen domestik yang besar serta pertumbuhan konsumsi domestik yang relatif kuat, Indonesia memiliki fundamental yang cukup kuat untuk terus mendorong pertumbuhan sektor ritel yang layanannya terintegrasi dengan logistik hub.

 

Penulis: Syarifah Syaukat

Sumber:

https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818

https://kfmap.asia/blog/sekilas-tentang-low-altitude-economy/4789

Share:
Back to Blogs