Sekilas tentang Low-Altitude Economy

Wednesday, 18 March 2026

Low-altitude Economy adalah terminologi yang digunakan untuk menjelaskan kegiatan komersial yang dilakukan pada ketinggian udara rendah, sekitar 1000 meter di atas permukaan tanah. Kegiatan ini umumnya menggunakan pesawat tanpa awak atau drone sebagai aktor utama, misalnya untuk layanan pengamatan terhadap perkebunan, transportasi udara, wisata udara, pemantauan lingkungan, serta pengiriman medis darurat.

Secara global, low-altitude economy berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan akan mobilitas yang lebih cepat, efisien, dan fleksibel, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi. Drone kini mulai digunakan untuk pengiriman paket dan obat-obatan, untuk transportasi jarak pendek di dalam kota.

Di Asia, beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, Singapore dan Korea Selatan telah mulai menguji teknologi mobilitas udara perkotaan. Di antara berbagai kota yang berupaya memanfaatkan peluang ini, Hong Kong muncul sebagai salah satu wilayah yang secara aktif mengembangkan ekosistem low-altitude economy sebagai bagian dari strategi inovasi perkotaan dan peningkatan struktur industri.

Baru-baru ini dalam publikasi Knight Frank disebutkan bahwa, low-altitude economy di Hong Kong secara bertahap mulai muncul sebagai arah baru bagi inovasi dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan peningkatan struktur industri. Konsep ini mencakup berbagai aktivitas yang luas, terutama merujuk pada model ekonomi yang berasal dari berbagai operasi penerbangan pada ketinggian antara permukaan tanah sampai sekitar 1.000 meter. 

Untuk mengembangkan sektor ini, Hong Kong perlu membangun fondasi yang kuat dalam bidang teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Saat ini, kapasitas penelitian dan pengembangan lokal masih relatif terbatas, sehingga kota tersebut perlu menarik talenta dari berbagai disiplin ilmu, termasuk penerbangan, kecerdasan buatan, pengolahan data, serta perencanaan kota.

Selain aspek teknologi, pemerintah juga harus mempertimbangkan berbagai dampak sosial dan ekonomi dari aktivitas udara rendah. Dalam lingkungan perkotaan yang sangat padat seperti Hong Kong, tantangan utama meliputi keselamatan penerbangan, kebisingan, privasi, serta integrasi dengan sistem transportasi yang sudah ada.

Keragaman struktur kota juga menjadi faktor penting. Beberapa distrik di Hong Kong memiliki kepadatan bangunan yang sangat tinggi dan ruang udara yang kompleks. Oleh karena itu, penerapan batas ketinggian standar hingga 1.000 meter mungkin tidak selalu optimal. Pendekatan regulasi yang lebih fleksibel dan berbasis karakteristik wilayah diperlukan untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang udara tersebut.

Kebijakan yang diberlakukan di Hong Kong terkait low-altitude economy, adalah program regulatory sandbox, yang memungkinkan perusahaan melakukan eksperimen teknologi dalam lingkungan regulasi yang terkendali.

Salah satu contoh yang dikenal di Hongkong, terkait layanan ini adalah hasil dari kerja sama antara SF Express Hong Kong dan Phoenix Wings yang meluncurkan rute pengiriman drone lintas laut pertama antara Cyberport dan Cheung Chau.

Secara khusus, Pemerintah Hong Kong juga akan menjajaki kerja sama dengan otoritas di Tiongkok daratan untuk membangun rute udara lintas batas, termasuk pengaturan imigrasi dan bea cukai, serta pembangunan infrastruktur pendukung. Pendekatan ini menciptakan keunggulan unik bagi Hong Kong sebagai landasan peluncuran inovasi yang berpotensi mentransformasi sistem logistik perkotaan secara global.

 

Penulis : Syarifah Syaukat

Sumber :

https://apac.knightfrank.com/knight-frank-asia-pacific-outlook-2026

Share:
Back to Blogs