Digitalisasi & Fenomena Doom Spending: Bagaimana Dampaknya bagi Sektor Ritel?

Friday, 17 April 2026

Perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang terjadi saat ini menjadi bagian dari pendorong utama dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perkembangan teknologi digital, kemudahan akses berbagai platform, serta kuatnya pengaruh media sosial telah menggeser pola konsumsi dari berbasis kebutuhan menjadi berbasis tren.

Hal ini tercermin dengan jelas pada sektor e-commerce. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, nilai transaksi e-commerce mencapai sekitar USD 5,76 miliar atau setara Rp 96,7 triliun pada bulan Februari 2026. 

Peningkatan ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan, tetapi juga oleh perubahan cara konsumen berbelanja. Strategi marketing melalui sebuah konten, kini menjadi “pintu utama transaksi” dalam e-commerce, karena konsumen menemukan produk melalui konten, bukan secara tradisional dengan mencari produk yang dibutuhkan (task-oriented). 

Tren ini didukung oleh performa live commerce, seperti pada dua e-commerce besar yang mencatat sekitar 38 miliar transaksi dalam penayangan live streaming, artinya terjadi peningkatan transaksi hingga 15 kali lipat.

Perubahan pola konsumsi tidak hanya didorong oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh perilaku konsumen. Misalnya saja, saat ini terlihat fenomena doom spending dari para generasi muda, yaitu kebiasaan belanja impulsif sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau pesimisme terhadap kondisi ekonomi dan masa depan. Dalam fenomena tersebut, generasi muda tetap aktif berbelanja meski kondisi ekonomi sedang tidak sepenuhnya stabil, terutama untuk kebutuhan gaya hidup, hiburan, serta makanan dan minuman.

Dampak dari perubahan perilaku ini terlihat jelas pada sektor riil, khususnya ritel dan gaya hidup. Misalnya, berdasarkan data Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) di salah satu kota, yaitu Pontianak per Agustus 2025, terdapat sekitar 1.035 coffeeshop yang tersebar di enam kecamatan. Masifnya pertumbuhan kedai kopi tersebut, mencerminkan pertumbuhan pesat sektor FnB sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. 

Insight tersebut sejalan dengan temuan Knight Frank Indonesia dalam report bertajuk “Jakarta Retail Market Overview 2H 2025”, menunjukkan bahwa sektor yang mendominasi ekspansi tenant adalah F&B, fashion, beauty & personal care, lifestyle, hingga entertainment. Tercatat new tenant yang masuk di akhir 2025 didominasi oleh sektor F&B, dengan sebanyak 24% masuk ke ritel premium dan 50% masuk ke ritel grade A. 

Dengan demikian, digitalisasi dan perubahan pola konsumsi turut memengaruhi pertumbuhan sektor ritel. Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan menghadirkan konsep yang lebih experiential, seperti memperkuat tenant berbasis F&B, lifestyle, dan entertainment. Inovasi juga dapat dilakukan dengan menghadirkan ruang yang interaktif dan menarik bagi pengunjung, misalnya melalui penyelenggaraan event dan berbagai aktivitas hiburan.

 

Penulis : Ratih Putri Salsabila

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/sekilas-terkait-dominasi-tenant-di-ruang-ritel/4837

https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818

https://www.republika.co.id/

https://www.cnbcindonesia.com/

https://inspirasinusantara.id/

https://pontianakpost.jawapos.com/

Share:
Back to Blogs