Tahun 2025 diakhiri dengan sentimen positif dari sektor kredit properti yang mengalami pertumbuhan signifikan. Tersalurkan sebesar Rp1.597,7 triliun, kredit properti tumbuh hingga 13% secara tahunan. Segmen konstruksi menjadi kontributor utama, tercermin dari laju pertumbuhannya yang paling menonjol dibandingkan segmen lainnya.
Jika melihat dua tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit properti belum pernah menembus persentase dua digit. Pada tahun 2023, kredit properti hanya tumbuh sebesar 7,6%, sementara pada 2024 pertumbuhannya melambat menjadi 6,6%. Secara historis, rata-rata pertumbuhan kredit properti dalam sepuluh tahun terakhir berada pada kisaran 5–7% per tahun.
Bank Indonesia mencatat bahwa kredit properti untuk segmen KPR dan KPA tumbuh secara moderat sebesar 6,8% yoy. Sementara itu, kredit real estate mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yaitu 8,6% yoy. Namun, segmen konstruksi dengan mudah mengalahkan kedua sektor tersebut dengan lonjakan sebesar 28,2% yoy. Capaian ini menjadi sorotan tersendiri, mengingat dalam beberapa tahun sebelumnya segmen konstruksi cenderung mengalami stagnasi dengan pertumbuhan mendekati 0%.
Kondisi ini sejalan dengan aktivitas konstruksi yang semakin masif di Indonesia, yang didorong oleh realisasi anggaran pemerintah pada akhir tahun. Selain itu, terdapat pula katalis positif lain berupa program pemerintah di sektor hunian, stabilisasi suku bunga, serta pemulihan kinerja KPR.
Meski demikian, dari sisi nominal, KPR dan KPA masih mendominasi dengan total penyaluran sebesar Rp850,5 triliun. Angka tersebut diikuti oleh kredit sektor konstruksi sebesar Rp504 triliun dan kredit real estate sebesar Rp253,2 triliun.
Lalu bagaimana prospek pertumbuhan kredit properti di tahun 2026?
Knight Frank Indonesia dalam Property Outlook Survey 2026 yang mengungkap hasil survey dari para pemangku kepentingan menyebutkan bahwa mayoritas pemangku kepentingan (61%) mempercayai sektor properti akan mengalami peningkatan secara moderat. Subsektor yang diperkirakan menjadi primadona pada tahun 2026 adalah pergudangan dan kawasan industri.
Selain itu, para pengembang juga memberikan sinyal positif terhadap pertumbuhan hotel dan apartemen sewa pada tahun 2026. Peran pemerintah turut mendukung momentum ini melalui berbagai kebijakan stimulatif, seperti perpanjangan insentif PPN DTP serta penurunan suku bunga kredit.
Meski sentimen cenderung positif, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat masih adanya tantangan yang berlanjut dari tahun 2025, antara lain daya beli masyarakat yang masih terkoreksi, tingginya harga tanah, tekanan inflasi, serta dinamika ekonomi global yang berpotensi berdampak pada sektor properti.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/peran-kredit-properti-dalam-pertumbuhan-pasar-properti-indonesia/3122
https://kfmap.asia/blog/kredit-properti-komersial-vs-kredit-properti-residensial-mana-yang-lebih-tangguh-tahun-ini/4113
https://investor.id/
https://infobanknews.com/
https://keuangan.kontan.co.id/
https://www.ceicdata.com/