Pada Selasa, 30 Juni 2026, dalam kunjungannya ke kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan rencana pembangunan jalur bawah tanah yang akan menghubungkan Plaza Senayan dan Senayan City. Menurut Pramono, koneksi antara kedua pusat perbelanjaan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat konektivitas antar kawasan di ibu kota.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur bagi pejalan kaki menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang lebih nyaman, aman, dan ramah bagi masyarakat. Menilik rencana tersebut, poin konektivitas menjadi tujuan utama yang ingin diwujudkan. Lantas, mengapa konektivitas dianggap penting dalam suatu perencanaan kota?
Dalam teori aksesibilitas oleh Walter G. Hansen (1959), dijelaskan bahwa aksesibilitas merupakan “the potential of opportunities for interaction", yang berarti semakin mudah seseorang mencapai suatu lokasi, semakin besar peluang lokasi tersebut dikunjungi. Sebagai gambaran, jika dihubungkan dengan keberadaan suatu properti komersial, maka kawasan yang memiliki akses lebih baik cenderung menarik lebih banyak pengunjung dibandingkan kawasan dengan hambatan mobilitas yang tinggi.
Dengan kata lain, aksesibilitas menjadi tujuan utama yang dicapai melalui peningkatan konektivitas kawasan. Prinsip ini juga menjadi salah satu fondasi dalam konsep Transit-Oriented Development (TOD). Menurut TOD Standard yang diterbitkan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), konektivitas tidak hanya mencakup hubungan antarbangunan, tetapi juga integrasi antara jaringan pejalan kaki, pusat aktivitas, serta transportasi publik, seperti MRT, LRT, dan BRT.
Jika konektivitas antar elemen tersebut semakin baik, masyarakat akan semakin mudah berpindah tanpa bergantung pada kendaraan pribadi. Di sinilah peran pentingnya, yakni ketika sebuah mal terhubung dengan jaringan transportasi publik, aksesnya tidak lagi terbatas pada masyarakat di sekitar kawasan, tetapi juga dapat menjangkau pengguna MRT, LRT, maupun moda transportasi lainnya dari berbagai wilayah Jakarta hingga kota-kota penyangganya, sehingga catchment area dan potensi jumlah pengunjung akan semakin besar.
Kondisi konektivitas yang ada di kawasan Bundaran HI Jakarta dapat menjadi contoh. Saat ini, jaringan pejalan kaki bawah tanah telah menghubungkan Hotel Pullman, Grand Hyatt Jakarta, Hotel Indonesia Kempinski, hingga akses menuju Stasiun MRT Bundaran HI. Ke depan, konektivitas tersebut akan semakin diperkuat melalui pembangunan Extended Concourse, yaitu ruang multifungsi yang akan menghubungkan Stasiun MRT Bundaran HI dengan Halte TransJakarta Bundaran HI dan Plaza Indonesia.
Dengan integrasi tersebut, masyarakat dapat berpindah antarbangunan maupun antarmoda transportasi secara lebih nyaman tanpa harus bersinggungan langsung dengan lalu lintas di permukaan. Selain meningkatkan aksesibilitas kawasan, konektivitas ini dapat mendorong pertumbuhan jumlah pengunjung (footfall), serta memperkuat aktivitas ekonomi pada properti komersial yang saling terhubung.
Hal ini sejalan dengan publikasi Knight Frank Indonesia bertajuk “Jakarta Retail Market Overview 2H 2025”, yang menyebutkan bahwa tingkat okupansi mall Premium Grade-A dan Grade-A tetap terjaga pada level tinggi, masing-masing sebesar 94% dan 92%. Tingginya tingkat hunian menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan dengan lokasi strategis, serta didukung aksesibilitas dan konektivitas yang baik, memiliki daya tarik yang kuat bagi para penyewa maupun pengunjung. Oleh karena itu, konektivitas bukan hanya nilai tambah, melainkan kebutuhan utama dalam meningkatkan daya saing properti komersial.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818
https://kfmap.asia/blog/ekspansi-stasiun-mrt-bundaran-hi-transformasi-ruang-bawah-tanah-menjadi-area-komersial/5026
https://news.detik.com/
https://megapolitan.kompas.com/
https://itdp.org/
https://link.springer.com/