Dalam beberapa tahun terakhir, Pulau Bali kian mengukuhkan posisinya sebagai hotspot investasi. Hal ini bergulir seiring dengan sejumlah proyek pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai sektor, di antaranya sektor pariwisata di Pulau Serangan dan sektor kesehatan di Sanur.
Pada April tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan kesiapan konsep dan regulasi untuk pengembangan KEK baru di Bali yang berfokus pada sektor jasa keuangan.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, Bali memiliki daya tarik unik bagi investor internasional. Selain telah diarahkan menjadi lokasi rencana KEK pada bidang pariwisata dan kesehatan, Bali kini diposisikan untuk menangkap peluang investasi internasional yang lebih besar di tengah pergeseran arus modal global saat ini melalui pengembangan KEK finansial, termasuk konsep family office yang tengah berkembang di Asia.
KEK ini direncanakan menjadi Pusat Keuangan Internasional atau International Financial Center (IFC) pertama di Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya menyebutkan bahwa pengembangannya akan mengacu pada salah satu IFC yang sudah ada di Dubai, yakni Dubai International Finance Centre (DIFC). Pusat finansial tersebut dinilai memiliki model pengembangan dan operasional yang ideal untuk diadaptasi pada KEK finansial di Bali.
Namun, pengembangan ekosistem keuangan bertaraf internasional ini memunculkan kekhawatiran, terutama pada aspek regulasi dan penegakan hukum. Ekonom David Sumual menilai model financial center seperti DIFC sebaiknya berada di bawah otoritas instansi independen atau nonpemerintah untuk menjaga kredibilitas.
Dari perspektif properti, inisiatif ini berpotensi menggeser lansekap pasar properti di Bali yang saat ini berorientasi pada akomodasi pariwisata seperti vila dan hotel. Kehadiran KEK finansial akan mendorong permintaan terhadap perkantoran komersial, ruang kerja yang fleksibel, dan kawasan mixed-use yang akan mengintegrasikan fungsi bisnis, hunian, dan ritel.
Spillover effect juga akan terasa pada kawasan sekitar lokasi KEK, termasuk peningkatan nilai lahan, percepatan pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ritel penunjang sektor F&B dan lifestyle. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait kesiapan infrastruktur dasar, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Jika dirancang secara matang, KEK finansial ini berpotensi memberi warna tambahan bagi peran Pulau Bali, selain sebagai destinasi wisata juga menjadi pusat ekonomi global yang dapat diperhitungkan di Asia.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://finance.detik.com/
https://ekonomi.bisnis.com/