Layanan water taxi di Bali mulai dikembangkan sebagai inovasi transportasi berbasis laut yang bertujuan mengatasi kemacetan di kawasan wisata utama. Selama ini, perjalanan darat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju destinasi populer seperti Seminyak, Jimbaran, hingga Uluwatu kerap memakan waktu lebih dari satu jam akibat kepadatan lalu lintas.
Dengan hadirnya water taxi, waktu tempuh tersebut dapat dipangkas menjadi sekitar 35-40 menit, bahkan pada rute tertentu seperti Bandara ke Canggu diperkirakan hanya membutuhkan 20-30 menit melalui jalur laut yang lebih bebas hambatan. Efisiensi ini menjadi daya tarik utama, terutama bagi wisatawan yang menginginkan perjalanan cepat dan nyaman.
Kebutuhan moda transportasi alternatif ini semakin mendesak seiring meningkatnya tekanan terhadap sistem transportasi darat di Bali. Tercatat jumlah kendaraan mencapai sekitar 4,7 juta unit, sementara panjang jaringan jalan hanya sekitar 8,69 km. Di sisi lain, Bali menerima hampir 20 juta wisatawan setiap tahunnya dan hanya sekitar 4% yang menggunakan transportasi umum. Ketergantungan yang tinggi terhadap kendaraan pribadi dan sewa menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi lalu lintas.
Dalam konteks tersebut, water taxi hadir tidak hanya sebagai solusi kepadatan transportasi darat, tetapi juga sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan karena mengurangi tekanan pada jaringan jalan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah merencanakan pengembangan proyek ini dengan target konstruksi yang dimulai pada Agustus 2026.
Proyek ini dirancang untuk menghubungkan titik-titik strategis di Bali, khususnya kawasan bandara dengan pusat-pusat pariwisata utama seperti Canggu. Nilai investasi awal yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp1,21 triliun, termasuk pembangunan infrastruktur pendukung seperti dermaga dan penahan gelombang untuk menjamin keselamatan operasional di perairan yang tergolong dinamis.
Meski memiliki potensi besar, implementasi water taxi tidak lepas dari berbagai tantangan. Ketersediaan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan kecil atau dermaga masih terbatas, sementara kondisi oseanografi perairan Bali ditandai oleh gelombang tinggi, arus kuat, serta potensi abrasi dan perubahan garis pantai. Oleh karena itu, pengembangan proyek ini direncanakan berlangsung secara bertahap hingga 2027, dimulai dari studi perencanaan, pembangunan infrastruktur, hingga uji coba operasional sebelum diimplementasikan secara luas.
Secara keseluruhan, water taxi di Bali merepresentasikan upaya transformasi sistem transportasi menuju model yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jalur laut sebagai alternatif mobilitas, layanan ini diharapkan dapat mengurangi beban lalu lintas darat, meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi pariwisata Bali jangka panjang.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://baketrans.kemenhub.go.id/
https://www.traveloka.com/
https://denpasar.kompas.com/