Ekspansi Wilayah Penyangga Hunian Jakarta Berlanjut

Friday, 24 July 2026

Jakarta memang masih menjadi center of attraction untuk berbagai kegiatan, tidak hanya bisnis dan ekonomi, namun juga pendidikan, budaya, sosial, dsb, sehingga permukiman tumbuh subur mendukung kegiatan masyarakat. 

Namun, lahan yang terbatas dan harga tanah yang terus tumbuh menjadikan keterjangkauan masyarakat menjadi terbatas untuk memilih hunian di Jakarta. Sedangkan wilayah sekitar Jakarta terus menggeliat  dan aktif menawarkan hunian dengan berbagai konsep, diantaranya wilayah Bekasi yang tumbuh pesat menjadi area permukiman, termasuk juga Tangerang/Tangerang Selatan.

Saat ini, segmen menengah menjadi pasar hunian yang terus tumbuh di Jakarta. Sementara itu, hunian vertikal saat ini memiliki segmen yang berbeda, kelas premium (atas) terus stabil pertumbuhan penjualannya. 

Pengembangan infrastruktur transportasi menjadi salah satu kunci dari tumbuhnya wilayah penyangga Jakarta. Jaringan jalan tol dan stasiun KRL yang semakin menggeliat juga menjadi alasan mengapa masyarakat beralih ke daerah penyangga. 

Saat ini, permintaan rumah di Bodetabek Inti masih terus tumbuh. Memang pada kenyataannya wilayah cakupan hunian di sekitar Jakarta terus meluas dari wilayah Bodetabek Inti, yang kemudian berkembang sebagai kota mandiri ke wilayah yang lebih jauh lagi, seperti Tenjo, Cikarang, Jonggol, Cariu, Rumpin, Cikupa Barat, Tarumajaya, dsb.

Meskipun begitu, permintaan di Bodetabek Inti masih lebih tinggi karena berbatasan langsung dengan pusat Kota Jakarta dan infrastruktur yang sudah lebih mature, dengan ragam infrastruktur kota yang tersedia dan terus dilengkapi.

Harga, memang menjadi pertimbangan utama bagi konsumen perumahan, sehingga wilayah penyangga memiliki keunggulan tersendiri. Didukung infrastruktur yang terus dibangun, maka tidak mengherankan ekspansi wilayah penyangga sebagai wilayah hunian terus tumbuh. 

Dari perspektif harga, memang pertumbuhan harga rumah terus meningkat setiap tahunnya. Jika merujuk pada data BI untuk segmen menengah sampai atas pertumbuhan berkisar 0,5-1,5% (yoy), berbeda halnya dengan hunian vertikal, Knight Frank menyebutkan bahwa hunian vertikal pada kelas premium memiliki pertumbuhan harga sekitar 0,5% (yoy) dengan stok yang juga terus tumbuh progresif.

Memang, pada Survei Proyeksi Pasar Properti Indonesia tahun 2026 yang dirilis oleh Knight Frank Indonesia terungkap bahwa, salah satu tren properti yang populer pada tahun ini adalah rumah tapak di secondary cities atau kawasan penyangga. 

Namun, meski demikian, beberapa tantangan perlu diwaspadai, seperti seperti kondisi ekonomi makro, termasuk pelemahan rupiah, tren lipstick effect, dan konflik geopolitik yang belum kunjung usai.

 

Penulis: Syarifah Syaukat

Sumber:

https://pasardana.id/

Share:
Back to Blogs