Department Store sebagai Revolusi Ritel dan Kondisinya Saat Ini

Friday, 7 August 2026

Salah satu konsep ritel yang revolusioner dan bertahan hingga era ini adalah department store. Konsep ini dapat didefinisikan sebagai toko serba ada (toserba) yang menjual berbagai lini produk dari berbagai macam departemen dan merek secara eceran. Hampir serupa dengan supermarket, perbedaannya terletak pada jenis barang yang dijual, supermarket lebih memprioritaskan penjualan pangan dan rumah tangga, sedangkan department store lebih berfokus pada sandang dan lebih condong ke sektor lifestyle.

Awalnya, konsep ritel ini diperkenalkan oleh Harding yang membuka tokonya yang bernama Howell & Co's Grand Fashionable Magazine di London pada tahun 1796. Toko ini menjual mulai dari bulu dan kipas, perlengkapan menjahit, aksesori, jam, dan aneka topi, dengan dominasi pengunjung berupa perempuan kelas menengah. Saat itu, munculnya toko ini merupakan salah satu revolusi industri yang ditandai dengan adanya perdagangan bebas yang berkembang pesat.

Department store mulai berkembang pesat pada pertengahan abad ke-19. Kehadiran Great Exhibition di Crystal Palace pada tahun 1851 turut memperkuat ruang ritel yang menawarkan pengalaman berbelanja melalui etalase dan arsitektur yang megah. Memahami perubahan perilaku konsumen, para pedagang kain (drapers) kemudian mengembangkan department store seperti John Lewis, Whiteleys, dan Harrods, yang menjadi simbol perkembangan ritel modern di Eropa.

Pada awal abad ke-20, Harry Gordon Selfridge merevolusi konsep department store melalui pendirian Selfridges di London. Berbekal pengalamannya di Marshall Field's di Chicago, ia menghadirkan konsep belanja yang lebih modern, berorientasi pada pelanggan, dan didukung arsitektur megah di London, menjadikan Selfridges sebagai salah satu pelopor department store modern. Hingga saat ini, konsep tersebut masih serupa.

Dari masa ke masa, konsep ritel ini juga memiliki tantangan eksternal seperti perubahan sistem ekonomi, tren pusat perbelanjaan yang semakin modern, dan tren berbelanja online yang sangat populer. Secara umum, department store juga beradaptasi mengikuti tren ritel secara global sehingga eksistensinya masih dapat kita temukan saat ini.

Di Indonesia, ritel besar atau mal besar yang sudah beroperasi sejak tahun 1900-an pasti memiliki department store yang berperan sebagai anchor tenant. Biasanya, department store menyewa unit yang sangat besar dan biasanya lebih dari satu lantai.

Melihat kondisi saat ini, sejumlah pelaku department store semakin menunjukkan penurunan dalam mempertahankan eksistensinya. Salah satu penyebab utamanya adalah pandemi yang sempat melumpuhkan sebagian besar aktivitas ritel. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi department store, terutama bagi pelaku yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen selama masa pandemi.

Di sisi lain, pesatnya perkembangan e-commerce telah menjadi salah satu kompetitor utama bagi pelaku ritel, terutama pada subsektor fesyen yang hingga kini masih mengalami tekanan. Selama lima tahun terakhir hingga tahun 2024, nilai transaksi e-commerce meningkat sekitar Rp200 triliun. Sejalan dengan itu, jumlah usaha e-commerce mencapai 4,4 juta atau tumbuh sekitar 86% dalam empat tahun terakhir, mencerminkan semakin tingginya preferensi masyarakat untuk berbelanja secara daring dibandingkan dengan mengunjungi toko fisik.

Selain itu, melemahnya daya beli masyarakat menjadi tantangan utama bagi peritel di Indonesia. Kondisi ini mendorong sejumlah department store melakukan penyesuaian strategi, mulai dari penutupan gerai hingga pengurangan luas sewa. Matahari, misalnya, telah menutup beberapa gerainya pada tahun 2025 di Gajah Mada Plaza, Plaza Kalibata, dan Cibubur Junction. Sementara itu, Metro secara bertahap melakukan downsizing dengan mengurangi luas area tokonya di sejumlah pusat perbelanjaan, seperti Gandaria City, Puri Indah Mall, dan Pondok Indah Mall.

Pada akhirnya, konsep department store perlu beradaptasi kembali dengan tren yang berlangsung untuk mempertahankan eksistensinya, terutama di Indonesia. Secara keseluruhan, kunci perkembangan ritel saat ini adalah adaptasi terhadap tren yang bergulir saat ini. Mal konvensional dengan konsep full indoor kini beralih menjadi open-air retail dengan tenant yang berbentuk alfresco. Maka dari itu, department store perlu terus berinovasi untuk menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih relevan ke depannya.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/transformasi-ritel-di-indonesia-dari-konvensional-ke-digital/4847

https://katadata.co.id/

https://www.bbc.com/

https://data.kompas.id/

https://www.pinhome.id/

https://pusatdata.kontan.co.id/

Share:
Back to Blogs