Pertumbuhan pesat e-commerce kerap dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan mal dan pusat perbelanjaan konvensional. Namun, data terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Yaitu, mal-mal di Jakarta tetap ramai dan permintaan ruang ritel tetap solid, meski transaksi belanja daring terus tumbuh.
Bank Indonesia mencatat transaksi e-commerce pada kuartal III 2025 mencapai Rp134,67 triliun, tumbuh 20,5% secara tahunan, didorong oleh rangkaian kampanye diskon besar seperti Indonesia Shopping Festival.
Alih-alih menggerus trafik pengunjung mal, fenomena ini justru berjalan beriringan dengan kebangkitan pusat perbelanjaan sebagai ruang pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh belanja online.
Berdasarkan laporan Jakarta Retail Market Update 2H 2025 dari Knight Frank Indonesia, permintaan ritel tetap kuat di tengah pasokan ruang baru yang terbatas, sehingga menjaga kinerja penyewaan mal-mal berkualitas tetap sehat, dan berbagai pembukaan gerai merek internasional secara konsisten mendorong aktivitas ekspansi.
Tercatat, tingkat okupansi ruang ritel sewa naik tipis 0,1% secara tahunan menjadi 86,9%, dengan pertumbuhan sewa kotor sebesar 1,8% secara tahunan dalam mata uang rupiah. Mal kelas premium bahkan mencatatkan performa lebih tinggi, di mana okupansi mal Premium Grade-A dan Grade-A tetap stabil di level 94% dan 92% pada semester ini.
Menariknya, seluruh mal sewa baru yang masuk pasar berlokasi di dalam kawasan mixed-use development, menegaskan tren pusat perbelanjaan yang kini menyatu dengan hunian, perkantoran, dan ruang publik dalam satu ekosistem.
Ekspansi merek papan atas turut menjadi bukti optimisme pelaku ritel, dengan nama-nama seperti BOSS, Pop Mart, dan Abercrombie & Fitch membuka gerai baru di Grand Indonesia, sementara Hermes Beauty, Sephora, dan Dolce & Gabbana Beauty hadir di Pondok Indah Mall.
Fenomena di atas menunjukkan bagaimana pusat perbelanjaan terus beradaptasi dengan tenant F&B, fast fashion, dan entertainment untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat urban saat ini.
Kondisi ini menegaskan bahwa mal bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan ruang pengalaman sosial yang menawarkan nilai berbeda dari e-commerce.
Selama pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan terus berinovasi lewat kurasi tenant dan konsep mixed-use, okupansi ritel dan sewa properti komersial diproyeksikan dapat tetap resilien di tengah gempuran platform belanja digital.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818
https://kfmap.asia/blog/strategi-bisnis-ritel-di-masa-pandemi/890
https://www.bi.go.id/
https://www.kompas.com/
https://www.cnbcindonesia.com/