Seiring berkembangnya kota mandiri, shophouse atau ruko menjadi salah satu jenis ritel yang banyak dikembangkan untuk melayani kebutuhan masyarakat di dalam kawasan.
Berbeda dengan mal, shophouse berperan sebagai neighbourhood retail atau ritel skala kawasan yang lebih dekat dan lebih aksesibel bagi kawasan residensial. Jenis ritel ini juga memiliki fleksibilitas tenan yang tinggi dan umumnya menggunakan skema strata.
Meski erat kaitannya dengan perkembangan kawasan penyangga dan kota mandiri, shophouse tidak hanya berkembang di area tersebut. Di Jakarta, distrik komersial yang berperan sebagai hub atau third place bagi berbagai kalangan, seperti Blok M, juga terdiri dari pengembangan shophouses. Namun, aktivitas ritel di Jakarta masih didominasi oleh jenis ritel berskala besar, yakni mal dan variasinya.
Sementara itu, perkembangan kawasan penyangga yang memiliki beberapa kota mandiri, seperti Tangerang Raya, pada awalnya juga banyak didukung oleh ritel berskala besar. Sebut saja, Mall@Alam Sutera, Living World Alam Sutera, AEON BSD City, Summarecon Mall Serpong, Teraskota, dan The Breeze. Namun, ruang ritel yang bersifat stand-alone maupun berbentuk shophouse turut menyumbang terhadap aktivitas ritel di skala kawasan, salah satunya adalah kawasan Gading Serpong.
Kawasan Gading Serpong memiliki karakter ritel shophouse dibandingkan dengan kawasan lainnya. Meski terdapat dua mal yang beroperasi, yaitu Carstensz Mall dan Summarecon Mall Serpong, aktivitas ritel shophouse cukup mendominasi kawasan ini. Jumlah pasokan ruko di kawasan ini telah mencapai ribuan unit, dengan jumlah bisnis (occupiers) yang meningkat sebesar 5,52% secara tahunan (YoY).
Perkembangan tersebut sejalan dengan kondisi pasar properti komersial di Banten, termasuk Tangerang Raya, yang masih menunjukkan pertumbuhan positif hingga kuartal II tahun 2026. Data Bank Indonesia (BI) mencatat permintaan properti komersial sewa tumbuh 2,06% (YoY), meningkat dari 0,51% pada kuartal sebelumnya, sementara permintaan kategori jual mulai tumbuh 0,01% setelah terkontraksi 0,17%. Dari sisi suplai, properti komersial sewa dan jual masing-masing tumbuh 4,5% dan 2,3%.
Sektor F&B menjadi bisnis yang paling banyak mengisi ruko di kawasan ini, sejalan dengan fenomena lipstick effect dan hyper-segmentation. Konsumen semakin mengalokasikan pengeluaran pada produk yang menawarkan experience dan affordable luxury, sementara pelaku usaha menghadirkan konsep yang semakin spesifik untuk menyasar segmen tertentu.
Salah satunya adalah Obihiro Nikudon, yang menawarkan Japanese comfort food dengan menu utama karubi dan menyasar konsumen muda, khususnya Gen Z dan milenial yang mencari produk F&B yang berkualitas dan trendy.
Pada akhirnya, ritel di Indonesia tidak lagi terpaku pada mal atau pusat perbelanjaan, tetapi terus berkembang mengikuti tren dan kebutuhan pasar. Shophouse menjadi salah satu format yang relevan dengan perkembangan kota mandiri karena memiliki captive market, sementara konsep alfresco juga semakin diminati karena menawarkan pengalaman baru dalam ritel. Perkembangan ini menunjukkan bahwa lanskap ritel Indonesia semakin beragam dan tersegmentasi berdasarkan kebutuhan pasar.
Penulis : Jovan Rafkhansa
Sumber :
https://www.detik.com/
https://banten.antaranews.com/
https://www.detik.com/
https://industri.kontan.co.id/
https://ekonomi.bisnis.com/