Dunia saat ini berada di tengah pergeseran tren, yang didorong oleh berbagai hal, di antaranya kondisi geopolitik global, percaturan ekonomi global, yang seluruhnya berimplikasi pada perekonomian lokal, memberikan warna dan wajah baru di berbagai lini kehidupan, termasuk dalam bisnis properti, residential dan komersial.
The Wealth Report (TWR) 2026 yang dirilis oleh Knight Frank menyebutkan bahwa, tren properti ritel saat ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup konsumen. Terdapat pergeseran dalam pola pengeluaran belanja konsumen saat ini, yaitu bergerak menuju ke arah pengalaman (experiences), kesejahteraan (wellbeing), dan tujuan (purpose). Hal ini kemudian memengaruhi strategi peritel, untuk melakukan penyesuaian di berbagai properti komersial dengan destinasi gaya hidup.
Masih dari sumber yang sama, diprediksikan bahwa dalam 10 tahun ke depan, di berbagai kota di dunia, seperti London, New York, Seoul, Tokyo, Shanghai kita akan menemukan fenomena ritel yang mengarah pada brands will go from product hyper-segmentation to retail hyper-segmentation, artinya bahwa pertumbuhan produk bukan lagi berasal dari variasi yang diciptakan, melainkan dari inovasi etalase yang diciptakan atau retail hyper-segmentation, misal melalui formulasi ulang desain toko offline, mengembangkan kanal penjualan online, ataupun integrasi keduanya dengan pengalaman belanja yang semakin spesifik untuk setiap segmen konsumen yang berbeda-beda.
Misalnya saja, untuk produk kopi, varian yang dirilis tidak terlalu banyak, namun lebih berfokus pada produk tersebut akan dijual di mana, bagaimana sistem penjualannya, dan kepada siapa produk tersebut dijual. Dalam metode hyper-segmentation, produk kopi dijual di toko offline dengan kemasan sachet atau kemasan (ready-to-drink), multipack di supermarket, bundling eksklusif untuk marketplace, sementara di alfresco dining retail disajikan dalam bentuk sajian yang lebih fancy, dsb.
Hyper-segmentation adalah salah satu metode pemasaran yang berkembang saat ini. Perlu dilakukan mengingat konsumen saat ini berbelanja di berbagai kanal, dan setiap kanal memiliki pola perilaku belanja yang berbeda. Produsen berharap dapat menangkap segmen pembeli yang lebih luas lagi. Selain itu, ritel atau pusat perbelanjaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi seperti pasar, tetapi juga sebagai lifestyle center, entertainment destination, community hub, dsb.
Lalu, apakah pergeseran tren tersebut juga terjadi di Indonesia saat ini?
Tren ritel hyper-segmentation tengah terjadi di Indonesia. Fase pergeseran telah terjadi sejak awal tahun 2022. Ditandai dengan pertumbuhan digitalisasi yang pesat, boom e-commerce sejak pandemi, dan bergesernya ruang fisik ritel dari tempat transaksi ke berbagai fungsi sosialnya saat ini. Perluasan segmen ini umumnya terjadi pada beberapa sektor, seperti F&B, Beauty, Fashion, dsb.
Sejalan dengan fenomena tersebut, dalam ulasan Jakarta Property Highlight yang dirilis oleh Knight Frank Indonesia pada semester kedua tahun 2025, terungkap bahwa, pada sektor ritel, tenant baru yang aktif mengisi ruang berasal dari sektor F&B, Beauty, Fashion, Sportswear, dsb.
F&B disebutkan sebagai tenant yang paling aktif mengisi ruang ritel di seluruh kelas di Jakarta. Hampir 50% tenant baru yang masuk di ruang ritel Jakarta berasal dari sektor F&B. Tidak dapat dipungkiri, di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan, akhirnya secangkir kopi dari gerai ritel F&B menjadi self reward tersendiri bagi para urbanits saat ini.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber:
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895
https://philomathresearch.com/