Setelah Pandemi, Apakah Cloud Kitchen Tetap Relevan?

Friday, 8 May 2026

Ketika pandemi terjadi, terutama saat kebijakan social distancing diberlakukan, ruang-ruang berkumpul mulai dibatasi untuk mencegah penularan virus COVID-19. Salah satu sektor properti yang turut terdampak cukup besar adalah sektor ritel. Traffic pengunjung mal pun turun drastis hingga 80%, membuat banyak pusat perbelanjaan menjadi sepi dan minim aktivitas, atau yang kemudian dikenal dengan istilah zombie mall.

Dari perspektif peritel, kondisi tersebut juga terlihat dari rerata penurunan okupansi ruang ritel hingga 8% (YoY) pada tahun 2021. Meskipun ritel premium grade A dan grade A mulai kembali menunjukkan pemulihan, ritel grade B dan grade C yang umumnya hanya berfungsi sebagai tempat transaksi masih menghadapi tantangan. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya digitalisasi yang memungkinkan konsumen bertransaksi secara online tanpa perlu datang langsung ke pusat perbelanjaan.

Begitu pula dengan sektor F&B dalam retail, seperti restoran dan kafe, yang turut terdampak karena masyarakat cenderung menghindari kunjungan langsung untuk meminimalisir penularan. Kondisi ini mendorong para pelaku usaha F&B untuk terus berinovasi demi mempertahankan bisnisnya. Salah satu inovasi yang kemudian berkembang pesat di Indonesia saat pandemi adalah cloud kitchen.

Singkatnya, cloud kitchen merupakan model bisnis F&B (makanan dan minuman) yang hanya melayani pemesanan secara online tanpa menyediakan layanan makan di tempat (dine-in). Sejalan dengan kebijakan saat pandemi, banyak pelaku usaha mulai beralih ke strategi ini dengan meminimalisir biaya operasional dine-in dan lebih memaksimalkan pemasaran online serta kualitas makanan. Tak hanya itu, konsep cloud kitchen juga memungkinkan beberapa brand beroperasi dalam satu dapur yang sama sehingga membantu peritel untuk tetap bertahan di tengah situasi yang tidak stabil.

Lalu, apakah cloud kitchen masih relevan saat ini?

Salah satu pemain besar dalam bisnis cloud kitchen adalah Hangry yang berhasil berkembang pesat di subsektor F&B. Sejak tahun 2021, Hangry telah beberapa kali memperoleh pendanaan, mulai dari USD 13 juta oleh Alpha JWC Ventures, USD 22 juta dari Journey Capital Partners pada tahun 2022, hingga USD 10,5 juta kembali dari Alpha JWC Ventures pada tahun 2025. 

Pendanaan yang terus berlanjut ini menunjukkan pertumbuhan pesat (hypergrowth) Hangry melalui strategi multi-brand, harga yang terjangkau, dan jangkauan konsumen yang luas.

Bukan tanpa tantangan, dalam pengelolaannya, bisnis F&B dengan sistem cloud kitchen perlu dikelola dengan cermat untuk bertahan dan mendapatkan keuntungan yang optimal. Contohnya adalah DishServe yang resmi menutup bisnis cloud kitchen-nya pada Mei tahun 2023 akibat margin yang rendah, lemahnya pengembangan merk, serta masalah rantai pasok. GrabKitchen yang memiliki ekosistem besar, konsumen loyal, dan kemampuan finansial yang kuat juga mengalami kegagalan karena permintaan yang tidak sebanding dengan suplai serta persaingan yang semakin ketat. Akibatnya, pertumbuhan bisnisnya menjadi tidak konsisten hingga layanan tersebut ditutup pada tahun 2022.

Pada akhirnya, bisnis cloud kitchen yang masih memiliki potensi untuk berkembang perlu didukung dengan strategi yang tepat, mulai dari menjaga unit economics tetap sehat, memperkuat pengaruh brand, hingga tidak bergantung pada satu kanal penjualan saja. Fokus pada profitabilitas juga penting agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan. Tanpa pengelolaan yang baik dan daya saing yang kuat, bisnis cloud kitchen akan sulit bertahan di masa depan.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/cloud-kitchen-andalan-saat-masa-pandemi/277

https://kfmap.asia/blog/strategi-bisnis-retail-pada-masa-pandemi/314

https://kfmap.asia/blog/pandemi-masih-membayangi-bagaimana-kondisi-ritel-saat-ini/1486

https://retoris.id/

https://swa.co.id/

https://teknologi.bisnis.com/

https://www.alphajwc.com/

Share:
Back to Blogs