Sekilas Mengenai Sejarah Stasiun Gambir dan Rencana Pengembangannya

Friday, 17 July 2026

Stasiun Gambir merupakan salah satu stasiun paling prestisius yang berperan penting dalam menghubungkan Jakarta dengan berbagai daerah di Pulau Jawa dengan moda berbasis rel. Sebagai stasiun yang berfokus pada layanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), Stasiun Gambir menjadi pintu masuk dan keluar utama bagi wisatawan maupun masyarakat yang bepergian dari dan menuju Jakarta.

Pada tahun 1871, stasiun ini awalnya merupakan sebuah halte yang terletak di kawasan silang Monas bernama Halte Koningsplein yang berperan sebagai simpul transportasi antara Jakarta dan Bogor. Pada tahun 1884, stasiun mulai dibangun tepat di lokasi Stasiun Gambir saat ini dengan wujud konstruksi yang lebih baik daripada sebelumnya, bernama Stasiun Weltevreden.

Seiring berjalannya waktu, stasiun ini mengalami renovasi besar pada tahun 1928 dengan mengusung konsep arsitektur art deco. Pada periode yang sama, nama stasiun berubah menjadi Stasiun Gambir, mengikuti penyebutan kawasan Lapangan Gambir yang sebelumnya dikenal sebagai Koningsplein. Sejak saat itu, nama Stasiun Gambir resmi digunakan dan terus dipertahankan hingga Indonesia merdeka.

Revitalisasi dan transformasi besar pertama kali dilakukan pada tahun 1988 melalui perluasan area layanan secara vertikal. Proyek ini dilakukan bersamaan dengan pembangunan jalur layang Jakarta Kota–Manggarai, yang mengharuskan pembongkaran bangunan lama Stasiun Gambir dan menggantinya dengan bangunan baru yang resmi beroperasi pada tahun 1992. Bangunan baru tersebut terdiri atas tiga lantai dengan empat jalur kereta.

Saat itu, Stasiun Gambir masih melayani beberapa perjalanan KRL seperti Stasiun Senen. Hingga tahun 2012, layanan KRL difokuskan ke Stasiun Gondangdia dan Juanda karena kepadatan perjalanan yang terjadi di Stasiun Gambir. Hingga saat ini, Gambir hanya melayani KAJJ untuk masyarakat, dan berperan penting bagi wajah atau ikon dari Jakarta.

Pemerintah melalui PT KAI menetapkan bahwa Stasiun Gambir akan direvitalisasi untuk memaksimalkan potensi lokasinya sebagai tourism area. Persiapan yang telah dilakukan PT KAI saat ini adalah alokasi anggaran dana sebesar Rp1 Triliun. Kedekatannya dengan Monumen Nasional menjadikan stasiun ini berpotensi dikembangkan sebagai Teras Monas. Melihat tren saat ini, experience-based terus didorong dalam sektor pariwisata dan akan diterapkan pada pengembangan yang memadukannya dengan ciri khas nusantara. 

Selain itu, aktivasi layanan KRL akan kembali dilakukan dalam rencana revitalisasi ini. KAI berencana untuk membuat dua jalur khusus atau dedicated track untuk Commuter Line sehingga tidak akan mengganggu aktivitas KAJJ atau sebaliknya. 

Pada akhirnya, transformasi Stasiun Gambir akan meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan Monas dibandingkan dengan sebelumnya. Kehadiran layanan KRL serta pengembangan area menjadi Teras Monas diharapkan dapat memperkuat daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata dan ruang publik yang lebih inklusif.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber :
https://kupang.antaranews.com/

https://money.kompas.com/

https://news.detik.com/

https://www.antaranews.com/

Share:
Back to Blogs