Menjual Pengalaman: Strategi Mall Bertahan di Era E-Commerce

Friday, 12 June 2026

Perkembangan e-commerce telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Berbagai kebutuhan kini dapat dibeli hanya melalui ponsel tanpa harus datang ke offline store. Kondisi ini sempat memunculkan anggapan bahwa pusat perbelanjaan akan kehilangan daya tariknya di tengah pesatnya pertumbuhan belanja online.

Namun, kenyataannya berbeda. Berdasarkan Jakarta Retail Market Overview 2H 2025 yang dirilis Knight Frank Indonesia, tingkat okupansi mal di Jakarta masih mencapai 86,9%, sementara mal premium mampu mempertahankan tingkat okupansi pada kisaran 92–94%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan masih mampu menarik pengunjung meskipun masyarakat kini memiliki banyak pilihan untuk berbelanja secara online.

Peran mall pun mengalami perubahan. Jika dahulu pusat perbelanjaan identik dengan aktivitas belanja, kini mall berkembang menjadi ruang yang menawarkan pengalaman, hiburan, dan interaksi sosial. Pengunjung datang tidak hanya untuk membeli barang, tetapi juga untuk menikmati kuliner, menghadiri acara, hingga mencoba berbagai aktivitas yang tidak dapat diperoleh melalui platform digital.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya brand activation yang diselenggarakan di pusat perbelanjaan. Salah satu contohnya adalah acara kecantikan interaktif yang menghadirkan teknologi analisis kulit berbasis Artificial Intelligence, konsultasi bersama ahli, hingga berbagai pengalaman langsung bagi pengunjung selama lebih dari dua minggu. Aktivitas seperti ini membantu brand membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen sekaligus mendorong kunjungan ke pusat perbelanjaan.

Transformasi fungsi tersebut juga membuat pusat perbelanjaan tetap menarik bagi berbagai brand untuk berekspansi. Jakarta Retail Market Overview 2H 2025 mencatat berbagai merek internasional terus membuka gerai baru di pusat perbelanjaan Jakarta. Kehadiran brand-brand tersebut menunjukkan bahwa offline store kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, tetapi juga sebagai sarana membangun pengalaman, memperkuat identitas brand, dan menjalin interaksi langsung dengan konsumen.

Pada akhirnya, pusat perbelanjaan tidak lagi hanya bersaing melalui produk yang dijual, tetapi melalui pengalaman yang ditawarkan. Jika e-commerce memberikan kemudahan bertransaksi, maka mall menawarkan pengalaman yang tidak dapat diperoleh melalui layar ponsel. Inilah yang membuat pusat perbelanjaan tetap relevan di era digital dan keduanya tidak lagi terlalu beririsan.

 

Penulis : Alya Arifa

Sumber :

https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818 

https://www.edisi.co.id/

https://www.kompas.com/

https://voi.id/

Share:
Back to Blogs