KRL Jabodetabek berperan sebagai salah satu tulang punggung transportasi urban yang menghubungkan wilayah penyangga, seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang dengan pusat aktivitas ekonomi di Kota Jakarta. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, pada 16 Februari 2026, yang mengatakan bahwa mobilitas masyarakat Jabodetabek sangat tinggi, yakni setiap harinya terjadi sekitar 39 hingga 45 juta perjalanan untuk berbagai aktivitas, seperti bekerja, sekolah, dan kegiatan lainnya.
Dengan tingginya mobilitas di kawasan Jabodetabek, Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi moda transportasi krusial, karena mampu mengangkut sekitar 3.000 penumpang dalam satu rangkaian, serta menawarkan konsumsi energi yang lebih efisien, sekaligus biaya yang lebih terjangkau dibandingkan moda transportasi lain.
Sementara itu, data operasional PT KAI mencatat tingginya konsentrasi penumpang di beberapa stasiun setiap harinya, seperti Stasiun Tanah Abang sekitar 250 ribu penumpang, Stasiun Manggarai 180 ribu penumpang, dan Stasiun Sudirman mendekati 280 ribu penumpang. Banyaknya jumlah penumpang di ketiga stasiun tersebut menunjukkan bahwa arus komuter sangat terpusat pada koridor-koridor menuju Kota Jakarta yang dekat dengan kawasan perkantoran dan aktivitas ekonomi lainnya.
Namun, pada koridor padat, seperti Stasiun Manggarai hingga Stasiun Cikarang, masih terdapat segmen yang menggunakan jalur campuran antara KRL, Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dan kereta barang, khususnya pada jalur rel Stasiun Bekasi hingga Stasiun Cikarang yang saat ini masih berupa double track.
Sebelumnya, pemerintah telah menginisiasi pembangunan Double-Double Track (DDT) yang direncanakan membentang dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Cikarang. Proyek ini baru beroperasi pada jalur rel Stasiun Jatinegara hingga Stasiun Bekasi, sementara segmen Bekasi–Cikarang masih berada pada tahap perencanaan dan peninjauan kembali desain teknis (Detailed Engineering Design/DED), serta belum memasuki tahap konstruksi.
Kondisi ini menyebabkan tingginya kepadatan lalu lintas kereta, serta meningkatkan potensi gangguan operasional dan risiko kecelakaan. Oleh karena itu, pembangunan Double-Double Track (DDT) menjadi penting karena memungkinkan pemisahan jalur antara KRL, KAJJ, dan kereta barang, sehingga dapat meningkatkan keselamatan, mengurangi bottleneck, serta mendukung peningkatan frekuensi perjalanan.
Sejalan dengan urgensi tersebut, pada 28 April 2026, Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa proyek DDT segmen Stasiun Bekasi–Cikarang akan menjadi prioritas setelah terjadinya insiden benturan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada malam 27 April 2026. Ia menegaskan bahwa percepatan proyek DDT merupakan bagian dari evaluasi sistem perkeretaapian untuk meningkatkan keselamatan dan kinerja operasional.
Selain segmen Stasiun Bekasi–Cikarang, kondisi serupa juga ditemukan pada segmen Stasiun Sudirman, Stasiun BNI City (Sudirman Baru), Stasiun Karet, dan Stasiun Tanah Abang, yang masih memiliki dua jalur rel (double track) meskipun dilalui beberapa layanan kereta, seperti KRL Commuter Line dan KA Bandara Soekarno-Hatta.
Keterbatasan ini juga berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas kereta, kepadatan penumpang, serta risiko kecelakaan pada jalur rel dalam kota Jakarta dengan intensitas pergerakan tinggi, seperti di segmen Stasiun Bekasi–Cikarang. Tanpa penyelesaian DDT, sistem transportasi akan tetap kurang efisien dan waktu tempuh tidak pasti, yang dapat menahan permintaan serta menghambat pertumbuhan nilai properti di kawasan suburban Jabodetabek.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://www.antaranews.com/
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.tempo.co//
https://www.kompas.com/