Rumah Dengan Harga Terjangkau Dibutuhkan, Namun Mengapa Penjualannya Melambat?

Friday, 19 June 2026

Rumah dengan harga terjangkau sangatlah dibutuhkan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah hingga rendah. Berdasarkan data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Q1 2026, penjualan rumah tipe kecil mengalami penurunan paling besar dibandingkan rumah tipe menengah dan tipe besar, yakni sebesar 45,59% YoY.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa tantangan utama pasar rumah murah bukan hanya terletak pada besarnya kebutuhan terhadap hunian, melainkan pada faktor lain, seperti kemampuan masyarakat untuk membelinya.

Di samping faktor daya beli, lokasi rumah dengan harga murah juga menjadi alasan. Banyak rumah dengan harga terjangkau berada di kawasan pinggiran kota yang jauh dari tempat kerja dan memiliki akses transportasi umum yang terbatas. Akibatnya, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga rumah, tetapi juga biaya hidup tambahan, seperti transportasi, bahan bakar, tol, serta waktu tempuh harian yang dapat mencapai 2–3 jam per hari.

Survei Konsumen Bank Indonesia bulan Mei tahun 2026 menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 123,0 pada April menjadi 120,9 pada Mei 2026. Pada periode yang sama, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun dari 128,1 menjadi 123,2 dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) turun dari 112,6 menjadi 108,3. Penurunan indikator tersebut mengindikasikan perilaku masyarakat yang semakin berhati-hati dalam melakukan pengeluaran besar, termasuk pembelian rumah.

Jika ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan keyakinan konsumen terjadi di seluruh kelompok pendapatan terjadi pada Mei tahun 2026. 

Tekanan terhadap kemampuan membeli rumah juga tercermin dari meningkatnya rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan dari 9,7% menjadi 10,2%, sementara proporsi pendapatan yang ditabung turun menjadi 17,5%. Di sisi lain, sekitar 70% pembelian rumah di Indonesia masih mengandalkan KPR, sehingga kenaikan beban cicilan dan terbatasnya tabungan membuat masyarakat semakin sulit memenuhi persyaratan pembiayaan maupun mengumpulkan uang muka atau DP.

Meningkatnya biaya hidup dan terbatasnya kemampuan menabung menciptakan dilema bagi masyarakat kelas bawah hingga menengah untuk memilih antara harga rumah yang lebih murah atau lokasi yang lebih dekat dengan pusat aktivitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa isu perumahan saat ini bukan hanya mengenai ketersediaan rumah murah, melainkan juga kemampuan masyarakat untuk melakukan transaksi hunian yang layak dan strategis.

 

Penulis : Ratih Putri Salsabila

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/bbm-naik-tarif-transjabodetabek-menyusul-masihkah-kota-penyangga-jadi-pilihan/5020 

https://www.bi.go.id/

Share:
Back to Blogs