Ramai Pengunjung, Padat Jalanan: Yogyakarta Hadapi Ledakan Kunjungan di Akhir Tahun

Tuesday, 6 January 2026

Kawasan Malioboro dan sekitarnya terpantau padat merayap pada malam pergantian tahun, dengan arus kendaraan yang nyaris tak bergerak, menandai lonjakan signifikan kunjungan wisata ke Yogyakarta. Berdasarkan keterangan kepolisian daerah setempat, jumlah pengunjung di kawasan Malioboro pada malam Tahun Baru mencapai lebih dari 450 ribu orang.

Kepadatan serupa tidak hanya terpusat di Malioboro. Aktivitas wisata juga terkonsentrasi di kawasan Keraton, Tugu Jogja, serta pusat kota, bahkan meluas hingga kawasan Gunungkidul. Dinas Pariwisata DIY mencatat sekitar 9 juta wisatawan berkunjung selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Namun, angka tersebut diperkirakan belum sepenuhnya mencerminkan jumlah kunjungan sebenarnya, mengingat mobilitas wisatawan yang tersebar ke berbagai kabupaten dan kota di DIY.

Lonjakan jumlah wisatawan ini di satu sisi mendorong perputaran ekonomi yang signifikan, terlihat dari meningkatnya aktivitas sektor pariwisata, perhotelan, dan usaha jasa pendukung lainnya. Namun, di sisi lain, tingginya intensitas kunjungan tersebut menambah tekanan terhadap dinamika kehidupan perkotaan, terutama pada aspek mobilitas, kepadatan ruang publik, serta beban infrastruktur kota. Kondisi ini kerap memengaruhi kenyamanan aktivitas warga maupun wisatawan, khususnya saat puncak arus liburan.

Fenomena tersebut memperlihatkan pola yang terus berulang, lonjakan jumlah wisatawan tidak selalu diimbangi dengan kapasitas infrastruktur dan pengelolaan lalu lintas yang memadai. Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai kota wisata yang ramah dan mudah diakses, justru kerap mengalami tekanan berlebih ketika memasuki musim liburan. Akibatnya, wisatawan harus menghabiskan sebagian perjalanan mereka terjebak dalam kemacetan.

Tingginya kepadatan lalu lintas bahkan mendorong Wali Kota Yogyakarta memilih menggunakan sepeda motor saat melakukan pemantauan langsung di sejumlah titik rawan kemacetan. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lalu lintas dan keramaian di kawasan-kawasan strategis tetap terkendali selama malam Tahun Baru.

Dampak tingginya kunjungan wisatawan tidak hanya tercermin dari padatnya destinasi wisata, tetapi juga terlihat pada tingkat okupansi hotel yang mencapai sekitar 85%. Perputaran ekonomi juga turut dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah. Warung makan, penginapan berskala kecil, layanan transportasi lokal, pemandu wisata, pedagang souvenir, pedagang kaki lima, hingga seniman jalanan merasakan secara langsung peningkatan aktivitas ekonomi seiring derasnya arus belanja wisatawan.

Bagi pelaku usaha, lonjakan wisatawan membawa harapan ekonomi. Namun, bagi warga dan wisatawan itu sendiri, kemacetan panjang kerap menjadi pengalaman yang melelahkan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa daya tarik wisata perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur, pengelolaan mobilitas, serta pengelolaan destinasi wisata yang lebih baik.

 

Penulis: Farah Septiawardahni

Sumber:

https://mediaindonesia.com/

https://jogja.tribunnews.com/

https://www.liputan6.com/

Share:
Back to Blogs