Properti Residential 1H26: Tumbuh Pelan-Pelan di Tengah Bayangan Tantangan

Friday, 21 August 2026

Semester pertama tahun 2026 baru saja berlalu, meninggalkan angka-angka yang tetap tumbuh atau terkontraksi. Menutup pertengahan tahun ini, pasar properti residensial Indonesia menunjukkan tanda-tanda perbaikan meski belum sepenuhnya pulih, yang tercermin dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia triwulan II tahun 2026.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan kedua tahun 2026 tercatat sebesar 110,89 atau tumbuh 0,69% YoY. Indeks harga ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan pertama tahun 2026, yang tumbuh 0,62% YoY. Pendorong utama peningkatan ini adalah kenaikan harga rumah tipe besar yang tumbuh 0,68% YoY dan juga meningkat dari 0,50% pada triwulan sebelumnya. Begitu pun dengan harga rumah tipe menengah yang tumbuh stabil di angka 0,83% YoY.

Namun, rumah tipe kecil masih mengalami perlambatan dengan harga yang tumbuh 0,49% YoY, setelah sempat tumbuh 0,61% di triwulan pertama 2026. IHPR Jabodebek-Banten di triwulan kedua tahun 2026 tumbuh 0,23% QtQ, meningkat dibandingkan triwulan pertama yang hanya tumbuh 0,04 QtQ. IHPR Jabodebek-Banten bersama dengan wilayah Pekanbaru yang tumbuh 3,26% QtQ pada triwulan kedua, disebut menjadi penopang kenaikan IHPR nasional di penghujung paruh pertama tahun 2026.

Dari sisi penjualan, kondisi juga membaik meski masih mengalami kontraksi. Penjualan properti residensial triwulan kedua tahun 2026 di pasar primer tercatat terkontraksi 2,36% YoY, tetapi jauh lebih kecil dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi pada triwulan pertama dengan penurunan 25,67% YoY. 

Setelah hanya tipe rumah menengah yang mengalami peningkatan penjualan di awal tahun 2026, kondisi di penghujung semester pertama menunjukkan angka yang berbalik arah, yakni perbaikan penjualan ditopang oleh penjualan rumah tipe besar yang tumbuh 13,08% YoY, berbalik dari kontraksi 8,03% pada triwulan I tahun 2026. Diikuti oleh perbaikan pada penjualan tipe rumah kecil, walau masih terkontraksi sebesar 2,88% YoY di triwulan kedua tahun 2026, angka ini membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 45,59% YoY.

Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah justru melemah, dari pertumbuhan 8,28% YoY menjadi terkontraksi 10,51% YoY di penghujung semester I tahun 2026. Pelemahan ini sejalan dengan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) yang turut melemah dari 108,3 pada Mei menjadi 105,9 pada Juni 2026. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya daya beli untuk pembelian bernilai besar, terutama pada kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah yang mencakup sekitar 66,35% penduduk Indonesia dan menjadi salah satu penopang utama konsumsi rumah tangga.

Tren serupa juga terlihat pada segmen hunian vertikal. Berdasarkan hasil riset Knight Frank Indonesia dalam laporan Jakarta Property Highlight 1H 2026, pasokan kondominium atau apartemen strata di wilayah Jakarta meningkat menjadi 249.107 unit dengan tingkat penjualan kumulatif mencapai 96,3%. Dengan dominasi penjualan segmen middle (39%), upper-middle (25%), dan high-end (21%) dari total penjualan.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menyebutkan bahwa resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang pemulihan pasar, meskipun segmen menengah tetap perlu dicermati sebagai basis permintaan terbesar.

Pasar properti residensial Indonesia pada semester I tahun 2026 berada dalam fase pemulihan bertahap. Selama tipe rumah berukuran besar dan segmen kelas atas melaju lebih unggul, permintaan di segmen kelas menengah tetap menjadi tantangan yang perlu dijawab oleh pengembang dan pemerintah dalam menghadirkan strategi, berupa produk serta harga yang tepat sasaran.

 

Penulis : Ratih Putri Salsabila

Sumber : 

https://kfmap.asia/blog/kelas-menengah-di-q1-2026-masih-menopang-properti-residensial-indonesia/4992

https://www.bi.go.id/

https://industri.kontan.co.id/

Share:
Back to Blogs