Sektor properti, dalam pertumbuhannya, memiliki siklus yang mencerminkan naik dan turunnya performa dari bisnis yang berjalan. Dalam satuan waktu, siklus yang bergulir umumnya berada pada rentang antara 10 - 20 tahun. Namun, sangat bergantung dengan kondisi perekonomian dan kondisi atau tren yang tengah terjadi saat itu.
Performa investasi, dapat memberikan gambaran performa properti dalam suatu siklus yang berlangsung. Terkait investasi properti, dalam The Wealth Report 2026 yang dirilis oleh Knight Frank terungkap tren investasi dari para crazy rich saat ini di sektor properti, yaitu preferensi pada properti komersial, dan preferensi ini telah terjadi bertahun-tahun.
Masih dari sumber yang sama disebutkan bahwa, 3 subsektor properti yang diminati investor global yaitu, industri, perkantoran, dan hunian. Lokasi investasi utama untuk subsektor properti tersebut adalah UK, US dan Jerman.
Meski sempat mengalami pelemahan, menurut Active Capital Survey 2026 yang dirilis oleh Knight Frank, disebutkan bahwa minat investor terhadap sektor perkantoran terlihat kembali membaik saat ini, dengan posisi perkantoran sebagai sektor yang paling diminati (75%) dibandingkan dengan sektor lainnya, seperti hunian, industri/logistik, ritel, hotel, data center, dsb.
Berbeda halnya dengan pertumbuhan sektor perkantoran di Jakarta saat ini, kondisinya tidak sama dengan gairah investasi para pemilik modal properti untuk sektor perkantoran. Hal ini terjadi karena performa sektor perkantoran saat ini masih challenging.
Sebagai gambaran, di CBD Jakarta, sejak tahun 2018 okupansi perkantoran tertahan berada pada kisaran 78%, padahal di rentang tahun 2012-2014 okupansi berada pada kisaran 94-97%. Kondisi ini terjadi karena berbagai faktor, di antaranya stok yang berlimpah dan terus bertambah, dan ekspansi yang mulai tertahan.
Kondisi semakin melemah ketika tahun 2020 terjadi pandemi, yang ditandai dengan okupansi pada kisaran 77% dan terus melemah menjadi sekitar 73% pada tahun 2022. Namun, perbaikan mulai terlihat di awal tahun 2024, ditandai dengan perbaikan okupansi mencapai 75% dan tidak adanya stok tambahan baru.
Perbaikan terus berlanjut, ditandai dengan okupansi di semester kedua tahun 2025, yang berada pada kisaran 79%. Kondisi ini diharapkan dapat terus bertahan, untuk mengembalikan masa kejayaan perkantoran, seperti pada periode 2012–2014.
Sebagai catatan untuk CBD Jakarta, meski investasi di sektor perkantoran belum kembali pulih saat ini atau belum seperti performa perkantoran di ranah global, saat ini di CBD Jakarta terlihat tren premium office is back, artinya minat occupier terhadap gedung premium saat ini kembali membaik dan terus bertahan, ditandai dengan okupansi gedung premium yang berada di kisaran 76% dan terus membaik sejak akhir tahun 2024.
Sementara itu, secara umum okupansi perkantoran premium saat ini tumbuh sekitar 2-4%, dengan rerata harga sewa juga terlihat kuat dan stabil, dengan pertumbuhan harga berada pada kisaran 1%. Sementara itu, stok tambahan baru diperkirakan akan mulai masuk kembali pada tahun 2028.
Setelah berada di masa kontraksi pada siklus properti sebelumnya, sektor perkantoran diharapkan bergerak menguat pada siklus berikutnya, dengan pertumbuhan yang lebih positif didorong oleh pasar premium yang terus membaik.
Dengan perbaikan performa sektor perkantoran yang berkelanjutan, harapan peningkatan investasi di sektor ini semakin terbuka ke depannya, tentu diiringi dengan adaptasi terhadap inovasi baru seperti halnya ESG Office yang menjadi tren dan kebutuhan pasar saat ini.
Penulis: Syarifah Syaukat
Sumber:
https://kfmap.asia/research/jakarta-cbd-office-market-overview-2h-2025/4731
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895
https://www.knightfrank.co.uk/research/article/2026/1/sector-strategy-for-2026