Pasar properti residensial Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang moderat. Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) oleh Bank Indonesia, pertumbuhan harga rumah di pasar primer tercatat sebesar 0,83% YoY, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,84% YoY.
Secara triwulan, pertumbuhan harga juga lambat menjadi 0,17% QtQ dibandingkan triwulan III sebesar 0,22% QtQ. Kondisi ini dipengaruhi oleh perkembangan harga berdasarkan tipe rumah, dengan segmen menengah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 1,12% YoY, diikuti rumah kecil sebesar 0,76% YoY, dan rumah besar sebesar 0,72% YoY.
Di sisi permintaan, pasar residensial mulai menunjukkan tanda pemulihan, dengan penjualan yang tumbuh 7,83% YoY, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh penjualan rumah tipe kecil yang melonjak 17,32% YoY, sementara rumah menengah tumbuh 4,84% YoY dan penjualan rumah tipe besar masih terkontraksi 10,95% YoY.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa permintaan pasar saat ini lebih didorong oleh end-user, khususnya di segmen harga yang lebih terjangkau, sehingga mencerminkan kondisi pasar yang bergerak lebih stabil dengan keseimbangan antara harga dan daya serap.
Fenomena ini juga berkaitan erat dengan peran generasi muda, khususnya Gen Z sebagai emerging market utama, yang diindikasi melakukan transaksi untuk rumah tipe kecil atas permintaan dari first-time buyers.
Namun, di saat yang sama, survei Bank Indonesia pada triwulan IV 2025 menunjukkan, terdapat sejumlah tantangan yang mempengaruhi akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah. Kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor penghambat utama (18,79%), diikuti oleh besarnya suku bunga KPR (15,56%), permasalahan perizinan dan birokrasi (14,79%), tingginya uang muka dalam pengajuan KPR (9,91%), dan skema perpajakan (9,42%).
Sementara itu, ketergantungan terhadap KPR masih sangat dominan, dengan porsi mencapai 70,88% dari total transaksi, tetapi pertumbuhan nilai KPR justru lambat menjadi 7,05% YoY dibandingkan dengan triwulan III sebesar 7,39% YoY. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian rumah semakin dipengaruhi oleh kemampuan finansial jangka panjang.
Jika menilik lebih jauh, fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh pergeseran preferensi. Generasi Z sebagai kelompok dominan sebagai first-time buyers, cenderung mempertimbangkan alternatif investasi selain properti, seperti instrumen pasar modal dan aset keuangan digital. Hal ini tercermin dalam Laporan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 bahwa kelompok usia 18–34 tahun mendominasi adopsi kripto di Indonesia, dengan porsi mencapai 81,6%.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, dalam kunjungannya ke Kota Makassar pada Jumat, 6 Maret 2026, menyampaikan bahwa generasi Z cenderung lebih memilih rumah sewa dibandingkan membeli rumah, karena dipengaruhi oleh mobilitas pekerjaan yang tinggi. Kondisi ini menjadikan kepemilikan rumah tidak lagi sebagai prioritas pada fase awal karier, melainkan sebagai keputusan jangka panjang yang memerlukan perencanaan lebih matang.
Secara keseluruhan, kondisi pasar residensial Indonesia saat ini berada dalam fase pertumbuhan moderat dengan permintaan yang terkonsentrasi pada segmen bawah. Di tengah kondisi tersebut, Gen Z tetap menjadi potensi pasar residensial yang utama.
Penulis : Ratih Putri Salsabila
Sumber :
https://www.bi.go.id/
https://makassar.kompas.com/
https://www.kompas.com/