Knight Frank, baru saja merilis publikasi terkait data center, bertajuk ‘Data Center Atlas 2026’. Publikasi menyebutkan bahwa pertumbuhan data center telah melewati tahun-tahun yang sangat penting sebagai salah satu infrastruktur digital yang berkembang saat ini. Perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi pendorong bagi peningkatan permintaan infrastruktur data center.
Volume akuisisi lahan di ranah global dalam sektor data center pada tahun 2025 mengalami peningkatan sekitar 12,4% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai US$16,5 M, tercatat sebagai nilai investasi tahun tertinggi.
Di pasar global, pada rentang tahun 2026-2029 diperkirakan akan ada tambahan stok sekitar 48 GW, angka yang menunjukkan peningkatan pasokan global sekitar 77%. Sementara itu, kapasitas data center untuk kebutuhan AI diproyeksikan meningkat dari 8 GW menjadi 27 GW.
Sementara itu, di Asia-Pasifik, pasar data center juga tumbuh pesat, terutama di Tokyo, Seoul dan Singapura, meski dibayangi oleh keterbatasan pasokan listrik. Termasuk di Australia dan India, sehingga pertumbuhan bergeser ke pasar sekunder.
Sementara itu, pasar data center Jakarta saat ini juga menjadi pilihan bagi investor untuk merambah pasar Asia Tenggara, termasuk Johor dan Bangkok yang saat ini tengah mengalami pertumbuhan pesat dalam penambahan pasokan data center.
Kapasitas IT aktif saat ini mencapai 344 MW, dengan prediksi tambahan sekitar 329 MW, dan dalam tahap pembangunan sekitar 1,6 GW yang telah dikomitmenkan. Tingkat kekosongan telah turun dari 27% pada tahun 2024 menjadi 21% pada awal tahun 2026.
Masih dari sumber yang sama disebutkan bahwa, pemain data center hyperscale asal Amerika dan Tiongkok telah membidik Indonesia, bahkan sebelum pandemi. Misalnya saja, Alibaba Cloud telah melakukan komitmen di Jakarta sejak tahun 2018, diikuti oleh Google Cloud pada tahun 2020, Tencent Cloud dan Amazon Web Services pada tahun 2021, Huawei pada tahun 2022, dan Microsoft Azure pada tahun 2025.
Sejalan dengan hal di atas, baru-baru ini, pemerintah menyebutkan bahwa tahun ini, di Indonesia akan dibangun AI Factory 1 GW, atau yang terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini akan menjadi infrastruktur komputasi AI raksasa, mulai dibangun pada 2027, pada tahap pertama akan dikembangkan di Batang, dan akan selesai dalam 3 tahun.
Proyek ini diwujudkan melalui peluncuran Zankore by Indosat, yang merupakan kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Infrastruktur ini merupakan bentuk integrasi data center yang mendukung komputasi AI, GPU berperforma tinggi, jaringan, penyimpanan data, hingga sistem pengelolaan beban kerja AI dalam satu ekosistem.
Sebagai wilayah dengan pasar yang besar, Indonesia dipertimbangkan menjadi pusat data regional saat ini, didukung oleh biaya investasi yang relatif efisien dibandingkan kota lain di Asia, menjadikan Indonesia masuk radar investor global untuk perkembangan data center. Untuk itu, kebijakan yang kondusif, pasar tenaga kerja, dan infrastruktur perlu secara konsisten disiapkan untuk menghadapi peluang sekaligus tantangan untuk menjadi AI regional hub ataupun regional technological hub.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://kfmap.asia/research/data-centre-atlas-2026/5191
https://inet.detik.com/