Dinamika Pengembangan Data Center di Greater Jakarta

Friday, 31 July 2026

Dalam lima tahun terakhir, sektor kawasan industri mulai diserap secara masif oleh pengembangan sektor kegiatan data center. Di Greater Jakarta, sektor ini mencatat serapan lahan sekitar 190 hektare dan menjadi kontributor serapan lahan industri terbesar dalam tiga tahun terakhir. 

Pertumbuhan data center tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di berbagai negara. Fenomena ini didorong oleh pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), komputasi awan (cloud computing), serta transformasi digital yang meningkatkan kebutuhan akan kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data. 

Seiring dengan meningkatnya adopsi AI, kebutuhan terhadap data center pun terus bertambah karena teknologi tersebut memerlukan infrastruktur komputasi yang besar untuk menjalankan berbagai proses dan layanan digital.

Berdasarkan report Knight Frank yang bertajuk Data Centre Atlas 2026, Jakarta memiliki kapasitas IT live atau kapasitas maksimum infrastruktur teknologi informasi (TI) sebesar 344 MW. Ke depan, kapasitas tersebut diproyeksikan bertambah melalui proyek dengan 329 MW yang sedang dalam tahap pembangunan dan proyek sekitar 1,6 GW yang telah direncanakan. Bahkan, sejumlah operator dan investor telah mengakuisisi lahan yang diperkirakan mampu menambah kapasitas lebih dari 2,3 GW. Dengan pipeline tersebut, kapasitas data center di Jakarta diproyeksikan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2027.

Permintaan terhadap hyperscale data center juga terus meningkat, terutama dari perusahaan teknologi global asal Tiongkok dan Amerika Serikat. Kedua negara mulai memasuki pasar Jakarta sejak tahun 2018, diawali oleh Alibaba Cloud pada 2018, disusul Google Cloud pada 2020, AWS dan Tencent pada 2021, Huawei pada 2022, serta Microsoft pada Mei 2025. 

Selain itu, pada akhir tahun 2026, satu proyek hyperscale data center baru dengan kapasitas 500 MW akan mulai beroperasi, yang akan semakin memperkuat kapasitas data center di Jakarta.

Dari sisi harga, Jakarta masih tergolong kompetitif dibandingkan kota-kota lain di regional Asia-Pasifik. Biaya konstruksi data center berada pada kisaran US$10,5 juta hingga US$11,6 juta per MW, atau berada di sekitar rata-rata regional Asia-Pasifik dan sekitar 25% lebih murah dari biaya pengembangan di Tokyo.

Tidak hanya Jakarta, Batam juga mulai berkembang sebagai lokasi baru bagi pengembangan hyperscale data center. Didukung oleh kedekatannya dengan Singapura, ketersediaan lahan yang lebih luas, serta pengembangan infrastruktur digital, Batam mulai menarik minat investor sebagai alternatif lokasi pengembangan data center di Indonesia, selain Jakarta. 

Salah satu pengembangan yang sudah berhasil beroperasi di Batam adalah Nongsa Digital Park yang juga termasuk sebagai KEK di Indonesia. Kapasitas data center di KEK tersebut dapat mencapai 100 hingga 200 MW.

Ke depan, Indonesia diperkirakan akan terus menjadi tujuan investasi subsektor data center, terutama di Greater Jakarta, Batam, serta kawasan industri lainnya seperti Batang dan Kendal. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, pemerintah sebagai regulator perlu menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan industri serta merumuskan insentif yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi data center.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber:

https://www.knightfrank.co.uk/research/reports/data-centres-global

https://kfmap.asia/blog/gerak-gerik-pertumbuhan-data-center-dalam-3-tahun-terakhir-di-greater-jakarta/4453

https://money.kompas.com/

https://bpbatam.go.id/

https://id.digitaledgedc.com/

https://ekonomi.bisnis.com/

https://news.detik.com/

Share:
Back to Blogs