Naik turunnya okupansi hotel di Jakarta tidak terjadi begitu saja. Di balik pergerakan tersebut, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi. Sepanjang tahun 2026, okupansi hotel di Jakarta menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis.
Data BPS menunjukkan bahwa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada awal tahun 2026 berkisar lebih dari 50%, bahkan tercatat sekitar 51–52% pada Februari. Namun, angka tersebut sempat turun hingga sekitar 42% pada bulan Maret, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor musiman terhadap permintaan akomodasi, mengingat bulan Maret tahun ini merupakan bulan Suci Ramadhan, masyarakat fokus beribadah puasa.
Salah satu pendorong utama peningkatan okupansi adalah penyelenggaraan event. Kegiatan seperti konser, pameran, hingga meeting dan konferensi atau yang kita kerap kenal sebagai aktivitas MICE terbukti mampu meningkatkan fasilitas akomodasi, seperti kebutuhan kamar hotel.
Ketika intensitas event meningkat, kawasan pusat bisnis dan area sekitar event cenderung mengalami peningkatan tingkat hunian. Dalam beberapa waktu terakhir, meningkatnya jumlah event berskala besar di Jakarta juga diikuti dengan peningkatan reservasi akomodasi, seperti konser yang memberikan dampak positif pada hotel dekat venue.
Misalnya saja, konser Coldplay yang diselenggarakan di Stadion Utama GBK pada tahun 2023, memberikan trickling down effect untuk sektor hospitality di sekitaran venue. Pemerintah setempat mengungkapkan bahwa, hotel di sekitar venue sudah terpesan hingga 98%. Sementara itu, sebagai pembanding, okupansi hotel-hotel di Jakarta yang terklasifikasi jauh dari venue masih berada di angka 40-50% pada saat itu.
Selain event yang berkaitan dengan hiburan dan pengalaman seperti konser, Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional juga mendorong mobilitas intradaerah serta menarik kunjungan dari luar daerah bahkan luar negeri untuk keperluan bisnis/budaya/hiburan, dsb.
Aktivitas ini berkontribusi dalam menjaga TPK hotel tetap stabil di kisaran 50% ke atas. Sebaliknya, pada periode tertentu seperti Ramadan dan libur panjang, mobilitas cenderung menurun karena masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan ke luar kota atau berkumpul dengan keluarga.
Pada akhirnya, sektor hospitality di Jakarta sangat bergantung pada berbagai aktivitas yang dibungkus dalam sebuah event, baik berbasis ekonomi, sosial ataupun budaya. Termasuk di dalamnya sektor pariwisata hiburan seperti konser atau kegiatan MICE lainnya.
Penulis: Alya Arifa
Sumber:
https://jakarta.bps.go.id/id
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.babelinsight.id/
https://kumparan.com/