Creative Market dan Ruang Semi Publik: Transformasi Lanskap MICE di Jakarta

Friday, 20 February 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) melihat perkembangan pesat dari pasar yang relatif baru. Jika dahulu ruang venue didominasi oleh pameran industri dan expo B2B, kini event berbasis komunitas dan gaya hidup semakin populer. Seolah tidak ada habisnya, event kreatif tahunan seperti Comic Frontier (Comifuro), Artket, P-LAND, dan banyak lainnya dijadwalkan menyambut para penggemarnya secara berturut-turut sepanjang tahun ini. 

Berkembangnya pasar kreatif akhir-akhir ini tidak luput dari tingginya arus pengunjung yang timbul. Comifuro, salah satu pasar kreatif terbesar di Indonesia, mencatat lonjakan pengunjung dari yang semula 13.000 pada awal 2020 menjadi lebih dari 20.000 pada tahun 2022 dan 2023 dalam dua hari masa penyelenggaraannya. Meskipun bersifat sementara, lonjakan ini berdampak nyata pada dinamika ekonomi sekitar venue, karena pengunjung tidak hanya datang untuk membeli karya seni, mengikuti workshop dan talkshow, tetapi juga berkumpul dengan komunitasnya.

Fenomena tersebut mendorong permintaan terhadap venue alternatif yang fleksibel dan lengkap dengan amenitas pendukung, seperti gerai F&B. Urban Forest Cipete dan Chillax Sudirman, misalnya, menawarkan venue ruang hijau dan semi terbuka lengkap dengan sejumlah tenant F&B dan ritel permanen yang ideal untuk pop-up market dan after-event gathering. Perhelatan pasar kreatif di kedua tempat tersebut tidak hanya memperpanjang durasi kunjungan, tetapi juga secara simultan meningkatkan aktivitas sosial, F&B, dan ritel, baik di dalam kawasan venue maupun di sekitarnya.

Saat ini, lanskap MICE di Indonesia masih didominasi oleh agenda korporasi dan pameran industri yang mengikuti kalender bisnis tahunan. Agenda pasar kreatif dan sejenisnya yang fleksibel dapat dilakukan berulang kali untuk mengisi kekosongan pada low season. Kegiatan berbasis komunitas ini tidak terikat pada musim kontrak tertentu, sehingga mampu mengisi jeda permintaan pada periode sepi sekaligus menjaga venue tetap aktif.

Ke depannya, pasar kreatif diprediksi terus berkembang seiring meningkatnya minat komunitas hobi terhadap pengalaman interaktif. Acara dan pasar kreatif seperti Comifuro dan Artket bukan sekadar tempat transaksi karya seni, tetapi juga sarana hiburan dan berkumpul. Karakter venue seperti Urban Forest Cipete dan Chillax Sudirman memungkinkan pengunjung menghabiskan lebih banyak waktu, membuka peluang untuk workshop, pop-up exhibition, dan program komunitas berskala lebih besar.

 

Penulis: Nareswari Dahayu

Sumber:

https://www.astuteanalytica.com/

https://weekender.thejakartapost.com/

https://www.kaorinusantara.or.id/

https://www.brushstudio.id/

Share:
Back to Blogs