Belakangan ini, wacana “gentengisasi” ikut meramaikan pembicaraan publik. Berawal dari pernyataan presiden yang mendorong penggunaan genteng menggantikan atap seng, isu ini cepat menyebar ke mana-mana. Ada yang mengira sekadar soal bahan bangunan; ada juga yang melihatnya sebagai kebijakan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, jika dicermati lebih jauh, pembicaraan tentang genteng justru membuka diskusi yang jauh lebih besar.
Atap sering kali luput dari perhatian, namun menjadi isu klasik yang perlu diatasi. Umumnya, kekurangan pada struktur atap tidak dianggap sebagai isu selama tidak bocor dan masih menutup kepala dari hujan. Urusannya dianggap selesai. Padahal, bagi jutaan keluarga, jenis atap sangat menentukan kenyamanan hidup sehari-hari. Seng, misalnya, murah dan mudah dipasang, tetapi panas di siang hari dan berisik saat hujan. Genteng menawarkan kondisi sebaliknya, lebih sejuk, senyap, dan memberi kesan rumah yang lebih layak.
Namun, perbincangan soal atap kini tak lagi sebatas kenyamanan, melainkan juga mulai bersinggungan dengan arah energi masa depan melalui pemanfaatan panel surya. Beberapa jenis atap, seperti atap logam dan genteng bitumen, justru lebih adaptif untuk pemasangan panel surya. Atap logam bahkan memiliki keunggulan berupa sifat reflektif yang membantu menjaga suhu bangunan tetap lebih sejuk. Jika gentengisasi diposisikan sebagai kebijakan jangka panjang, maka perlu diselaraskan dengan kebutuhan energi terbarukan.
Sementara itu, di lapangan, persoalan dasar perumahan masih jauh dari selesai. Hingga beberapa tahun terakhir, banyak rumah tangga di Indonesia masih bertahan dengan atap seng atau asbes, terutama di wilayah perdesaan. Dalam konteks inilah dorongan untuk beralih ke genteng kerap dibaca sebagai upaya meningkatkan standar hidup, meski tantangannya jelas tidak sederhana.
Berdasarkan Indikator Kesejahteraan Rakyat dari BPS dalam angka 2025, sebanyak 47,56% rumah tangga Indonesia masih menggunakan atap seng, kayu/sirap, dan asbes dengan proporsi lebih tinggi menggunakan seng, kayu/sirap (43,21%) dibandingkan dengan asbes (4,35%). Sementara itu, 51,03% rumah tangga telah memakai atap genteng dan beton. Artinya, hampir separuh rumah tangga masih tinggal di bawah atap yang cenderung tidak nyaman, bising saat hujan, dan kurang tahan lama. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan kualitas atap merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan dalam perbaikan perumahan.
Namun, implementasi gentengisasi secara masif masih menyimpan risiko. Dari sisi teknis kebencanaan, genteng memiliki bobot jauh lebih berat dibandingkan dengan seng. Banyak rumah, terutama di kawasan padat dan perdesaan, dibangun tanpa struktur perhitungan yang memadai. Jika genteng dipasang tanpa penguatan rangka, risiko runtuh saat gempa atau cuaca ekstrem malah meningkat dan menjadi sumber kerentanan.
Oleh karena itu, gentengisasi seharusnya tidak dipahami sebagai proyek penggantian satu material dengan material lain. Gentengisasi lebih tepat dilihat sebagai ajakan untuk memikirkan ulang kualitas hunian secara menyeluruh. Rumah yang lebih nyaman memang penting, tetapi harus aman secara struktural dan tidak merusak lingkungan di belakangnya.
Penulis: Farah Septiawardahni
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/jenis-atap-hunian-yang-sesuai-untuk-panel-surya/2176
https://www.cnbcindonesia.com/
https://www.bbc.com/
https://nasional.kompas.com/