Fenomena El Nino kini bukan lagi sekadar anomali cuaca, melainkan disrupsi ekonomi yang mulai menghantam sektor properti secara sistemik. Berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), probabilitas El Nino pada semester II 2026 mencapai 50 hingga 80 persen. Selama ini El Nino lebih sering dipandang sebagai fenomena cuaca. Namun, dampaknya kini dapat terasa pada aktivitas pembangunan dan sektor properti di kawasan perkotaan.
Ancaman ini bukan hanya soal suhu udara yang meningkat, tetapi juga terganggunya rantai pasok material konstruksi yang memicu lonjakan biaya pembangunan secara signifikan. Dampak tersebut mulai terasa pada pasokan material konstruksi di wilayah penyangga Jakarta. Penurunan debit air sungai di Bogor telah menghambat ekstraksi pasir dan batu yang menjadi pasokan utama kebutuhan konstruksi Jakarta.
Tekanan pada rantai distribusi tersebut turut mendorong kenaikan harga material konstruksi. Harga pasir tercatat mengalami kenaikan sekitar Rp20 ribu per ritase, sementara harga semen berfluktuasi pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per sak akibat terganggunya pasokan dan distribusi material.
Fenomena El Nino juga terlihat pada refleksi pertumbuhan sektor asuransi properti. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebut potensi kebakaran saat kemarau panjang dapat memicu kenaikan klaim dan premi asuransi yang berdampak pada meningkatnya beban operasional properti.
Dalam menghadapi risiko ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyiapkan relaksasi fiskal melalui kebijakan perpajakan yang lebih kompetitif untuk menjaga iklim investasi properti. Selain itu, mitigasi juga dilakukan dengan memperkuat cadangan material konstruksi dan mendorong penggunaan teknologi pembangunan yang lebih efisien serta adaptif terhadap kondisi iklim.
Pada akhirnya, kemampuan sektor properti dalam menghadapi fenomena El Nino 2026 akan sangat bergantung pada kesiapan industri dalam beradaptasi terhadap risiko cuaca ekstrem. Adaptasi iklim kini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sektor properti agar tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, upaya mitigasi juga diperlukan dalam meminimalkan resiko dari dampak El Nino, khususnya terhadap perkembangan sektor properti.
Penulis: Alya Arifa
Sumber:
https://kfmap.asia/research/jakarta-retail-market-overview-2h-2025/4818
https://kfmap.asia/research/jakarta-strata-apartment-market-overview-2h-2025/4894
https://www.antaranews.com/
https://www.bmkg.go.id/berita/utama
https://www.bi.go.id/id/publikasi/