Anomali iklim bukan lagi sekadar prediksi ilmiah masa depan, melainkan realitas ekonomi yang mulai mengubah wajah pasar properti global dan domestik. Curah hujan ekstrem, gelombang panas yang memicu lonjakan penggunaan energi, hingga perubahan pola musim kini menjadi variabel utama dalam menentukan nilai sebuah aset. Di Indonesia, tantangan ini terasa semakin nyata seiring dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di berbagai kota besar serta kawasan penyangga.
Data terbaru menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat krusial dalam peta risiko global. Menurut World Risk Index 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia dengan skor 39,8. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat ribuan kejadian bencana alam di tanah air yang didominasi oleh banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Statistik ini menegaskan bahwa keputusan pengembangan kawasan residential, area industri, hingga pusat logistik tidak bisa lagi mengabaikan variabel iklim. Bagi investor, infrastruktur drainase yang mumpuni, akses evakuasi, dan tata ruang yang aman kini menjadi syarat wajib, bukan lagi sebuah fitur tambahan.
Tren global dalam The Wealth Report 2025 menunjukkan bahwa para pemilik kekayaan besar (UHNWI) kini semakin sensitif terhadap isu keberlanjutan. Sekitar 26% kantor keluarga (family offices) telah berinvestasi pada isu iklim dan lingkungan, sementara 42% lainnya berencana melakukan hal serupa dalam waktu dekat. Permintaan terhadap bangunan yang memiliki efisiensi energi tinggi dan ketahanan iklim terus melonjak, baik dari sisi investor maupun penyewa korporat. Sebaliknya, aset yang gagal beradaptasi dengan standar keberlanjutan berisiko mengalami penurunan daya tarik dan devaluasi di pasar.
Mitigasi bencana di sektor properti modern kini mencakup strategi yang lebih komprehensif, mulai dari tahap desain hingga manajemen aset sehari-hari. Langkah-langkah strategis seperti audit energi, penilaian risiko banjir, hingga penggunaan material tahan panas menjadi bagian dari pengelolaan gedung yang progresif. Riset menunjukkan bahwa bangunan dengan sertifikasi hijau atau yang mampu mendemonstrasikan nilai sosial dan lingkungan cenderung lebih likuid dan memiliki performa investasi yang lebih stabil dibandingkan bangunan konvensional.
Ke depan, investasi pada properti tangguh iklim harus dipandang sebagai strategi proteksi nilai aset dalam jangka panjang. Di tengah ketidakpastian cuaca yang kian ekstrem, mengintegrasikan data iklim ke dalam pengelolaan properti akan membantu menjaga daya saing aset. Dalam konteks inilah, dukungan konsultan riset dan jasa profesional menjadi mitra strategis bagi pengembang dan investor untuk merancang portofolio yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berdaya tahan demi menjaga nilai kekayaan di masa depan.
Penulis : Arief Fadhillah
Sumber :
https://www.knightfrank.com/wealthreport
https://www.knightfrank.co.uk/perspectives/article/2024/7/climate-risk-and-resilience-and-the-opportunity-for-commercial-real-estate?utm_source=perplexity&utm_medium=ai&utm_campaign=perplexity_referral
https://indonesiabaik.id/
https://data.goodstats.id/
https://www.medcom.id/