Jalan Braga merupakan salah satu destinasi wisata legendaris di Bandung. Jalan ini dulunya adalah jalan setapak berlumpur bernama Pedatiweg atau Karrenweg, yang menghubungkan gudang kopi milik Andreas de Wilde (kini Balai Kota Bandung) dengan Jalan Raya Pos atau Groote Postweg, yang kini menjadi Jalan Asia Afrika, sebelum berkembang menjadi pusat perbelanjaan bagi warga elit Belanda di Kota Bandung dan sekitarnya.
Beberapa tahun terakhir, Braga tengah menikmati momentum wisata terbaiknya. Kebangkitan ini bermula ketika tokoh seni Bandung, Ropih Amantubillah atau Abah Ropih, menjadikan trotoar jalan sebagai area pamer lukisan para seniman pada tahun 2000, momentum yang terus terbawa hingga Braga kini menjadi pusat seni, kuliner, dan kreativitas Kota Bandung.
Program terkininya adalah Braga Bebas Kendaraan (Braga Beken), yang menjadikan koridor ini sebagai ruang wisata terbuka setiap akhir pekan, dipenuhi kafe, kedai kuliner, toko suvenir, hingga seniman jalanan di antara deretan bangunan bergaya art deco. Dampaknya terlihat saat libur Lebaran 2026, ketika kunjungan wisatawan ke Kota Bandung mencapai sekitar 700 ribu orang dengan Braga sebagai salah satu pusat keramaian utamanya.
Fenomena revitalisasi Braga menjadi seperti saat ini, menunjukkan salah satu praktik properti yang menarik, yaitu adaptive reuse. Adaptive reuse menghidupkan kembali bangunan lama untuk fungsi baru tanpa menghapus karakter aslinya. Bangunan kolonial di Braga yang dulunya menjadi toko serba ada, bank, atau bioskop kini bertransformasi menjadi kafe berkonsep, galeri seni, dan ruang kreatif.
Pengalaman Singapura menunjukkan seberapa jauh potensi ekonomi pendekatan ini. Ruko-ruko heritage atau shophouse di kawasan konservasi seperti Chinatown dan Kampong Glam telah menjelma menjadi kelas aset tersendiri yang diburu investor.
Knight Frank Singapore menerbitkan riset pasar khusus shophouse secara berkala, Salah satu ulasannya menyebutkan bahwa di sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, tercatat 65 transaksi shophouse dengan nilai total sekitar SG$546 juta, dan salah satu transaksi utama adalah penjualan shophouse konservasi di 65 Club Street senilai SG$21 juta yang diperantarai Knight Frank.
Kuncinya ada pada kelangkaan dan keunikan aset: pasokan bangunan konservasi dibatasi secara absolut oleh regulasi, sehingga aset heritage dipandang sebagai instrumen pelestarian kekayaan lintas generasi, bukan sekadar properti komersial biasa.
Meski konteks Braga berbeda dari Singapura, tren yang terjadi cukup serupa: bangunan bersejarah yang dirawat dan diisi dengan fungsi yang tepat dapat menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan, jauh melebihi pilihan membiarkannya kosong atau menggantinya dengan bangunan baru. Potensi ini melengkapi daya tarik investasi properti di Bandung yang telah ditopang oleh sektor pariwisata dan pendidikan, dengan Braga sebagai etalase komersial yang dapat diperhitungkan.
Penulis : Zahraan Fauza Ardilla
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/bandung-potensi-investasi-properti-di-luar-jabodetabek/4552
https://www.tempo.co
https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com
https://www.knightfrank.com.sg
https://www.edgeprop.sg