Di pasar properti global, satu juta dolar AS bukan lagi angka yang selalu identik dengan kemewahan tanpa batas. Pada beberapa kota di dunia, nilai tersebut kini hanya cukup untuk membeli apartemen berukuran sedang, bahkan kecil. Di Monaco, misalnya, dana US$1 juta hanya mampu membeli sekitar 16 meter persegi hunian premium. Sementara di Hong Kong, dengan dana yang sama, mendapatkan sekitar 23 meter persegi hunian premium, di Singapura dan Geneva, anggaran yang sama hanya menjangkau sekitar 28 meter persegi. Dan di London, pembeli akan mendapatkan 33 meter persegi saja.
Data di atas berasal dari Prime International Residential Index (PIRI) yang dirilis dalam The Wealth Report 2026 oleh Knight Frank, yang setiap tahun melacak pergerakan harga hunian premium di berbagai kota utama dunia. Salah satu indikator menarik dalam laporan ini adalah US$1 million buying power, yakni ukuran berapa luas properti hunian premium yang dapat dibeli dengan anggaran satu juta dolar AS.
Lalu, bagaimana dengan Jakarta?
Meski Jakarta belum masuk daftar 20 kota dengan hunian premium termahal di dunia, justru di situlah letak daya tariknya, dalam arti dengan dana setara sekitar Rp16–16,5 miliar (USD 1 juta), pembeli berpotensi memperoleh apartemen premium seluas sekitar 180 hingga 300 meter persegi, atau bahkan rumah tapak mewah dengan luas bangunan 300 hingga 600 meter persegi di Jakarta, tergantung lokasi dan spesifikasi properti.
Sementara itu, pertumbuhan harga hunian mewah di Jakarta, pada akhir tahun 2025 berada di angka 0,8% (secara tahunan). Artinya, berada di bawah rerata pertumbuhan harga hunian premium di Asia yang berada di angka 3,7%.
Namun secara umum, rerata pertumbuhan harga hunian mewah di Jakarta dalam 5 tahun terakhir berada di angka yang cukup stabil, yaitu pada kisaran 0,5-1,4%. Hal ini menjadi pertimbangan positif, mengingat beberapa kota di Asia mengalami pertumbuhan harga hunian mewah yang negatif, seperti Guangzhou, Shenzhen, Shanghai, dsb.
Wilayah dengan citra hunian premium di Jakarta pun terus meluas dan berkembang, mulai dari Menteng, Senopati, Dharmawangsa, Kebayoran Baru, SCBD, Senayan, Permata Hijau, hingga Pondok Indah tetap menjadi episentrum hunian premium. Sementara itu, kawasan baru seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) mulai memperluas definisi luxury living dengan konsep terpadu yang memadukan residensial, gaya hidup, dan konektivitas.
Pada akhirnya, pertanyaan “seberapa luas hunian yang bisa dibeli dengan US$1 juta?” bukan sekadar soal ukuran meter persegi. Pertanyaan itu juga mencerminkan bagaimana sebuah kota diposisikan dalam peta kekayaan global.
Penulis : Syarifah Syaukat
Sumber :
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895