Ketika membahas pasar properti mewah di dunia, perhatian sering kali tertuju pada kota-kota, seperti Monaco, London, New York, Dubai, Tokyo, atau Singapura yang dikenal sebagai destinasi hunian premium dan investasi kelas atas. Lantas, bagaimana posisi Indonesia dalam peta pasar properti mewah global?
Baru-baru ini Knight Frank membagikan sejumlah data terkait tren kekayaan, properti mewah, dan investasi global dalam publikasinya yang bertajuk “The Wealth Report 2026”. Report tersebut menempatkan Indonesia di peringkat pertama dalam proyeksi pertumbuhan populasi UHNWI (Ultra High Net Worth Individual) atau orang dengan kekayaan bersih di atas US$30 juta, yang tercepat di dunia dalam lima tahun ke depan.
Populasi UHNWI di Indonesia diproyeksikan melonjak dari 3.833 orang pada tahun 2026 menjadi 6.966 orang pada tahun 2031 atau naik 82%. The Wealth Report 2026 menyebut Indonesia sebagai bagian dari gelombang baru pertumbuhan kekayaan global yang tidak lagi didominasi oleh “pemain lama”, seperti Amerika Serikat atau Eropa Barat, melainkan oleh negara dengan ekonomi yang sedang menuju kematangan, seperti Indonesia, Vietnam, Arab Saudi, dan Polandia.
Meski begitu, The Wealth Report 2026 juga menyoroti harga properti mewah global dan menemukan bahwa harga properti mewah di Jakarta justru memiliki pertumbuhan landai. Dalam Indeks PIRI 100 (Prime International Residential Index) yang memantau pergerakan harga properti mewah di 100 kota utama dunia, Jakarta berada di peringkat ke-66 dari 100 kota, dengan kenaikan harga hanya 0,8% YoY sepanjang tahun 2025.
Dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia yang justru melesat tajam, seperti Tokyo (+58,5%), Manila (+17,5%), Bengaluru (+9,4%), Mumbai (+8,7%), dan Singapura (+7,9%). Dalam periode lima tahun terakhir, Jakarta juga mencatat harga properti mewah yang turun 1,3%, berbeda jauh dari tren kenaikan tajam yang dialami kota-kota Asia tersebut.
Lalu, apa arti dari data-data tersebut terhadap kondisi properti mewah di Jakarta?
The Wealth Report 2026 secara global menyoroti fenomena bahwa harga properti mewah kini melepaskan diri atau decoupled dari pasar properti biasa, yang didorong oleh kecepatan penciptaan kekayaan yang jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi biasa. Knight Frank mencatat bahwa penciptaan kekayaan secara global berjalan pada laju 5,3% per tahun, jauh di atas pertumbuhan PDB global yang hanya 3,3%.
Namun, pola ini belum sepenuhnya terjadi di Jakarta. Terdapat beberapa kemungkinan kondisi yang sedang terjadi. Pertama, populasi UHNWI di Indonesia belum banyak mengalihkan kekayaannya ke properti premium, seperti yang sedang masif dilakukan oleh kalangan UHNWI di Mumbai dan Manila. Kedua, The Wealth Report 2026 mencatat tren global terkait mobilitas orang kaya yang semakin tinggi dan menjalani gaya hidup “dip-in, dip-out” atau berpindah-pindah negara, sehingga ada kemungkinan sebagian kekayaan penduduk Indonesia justru mengalir keluar, bukan ke pasar domestik. Selain itu, dinamika politik dan ekonomi yang berkembang berpotensi memberikan efek penyesuaian terhadap prediksi pertumbuhan jumlah orang kaya di Indonesia.
Terlepas dari interpretasi tersebut, jika tren pertumbuhan populasi superkaya di Indonesia terus berlanjut, seperti dalam The Wealth Report 2026, dan pertumbuhan harga hunian mewah berada dalam kondisi stagnan, maka fenomena pasar properti hunian mewah menjadi sangat menarik untuk terus dipantau dalam beberapa tahun ke depan.
Penulis: Ratih Putri Salsabila
Sumber:
https://kfmap.asia/research/the-wealth-report-2026/4895