Sejarah Gelora Bung Karno dan Transformasi Fungsi Kawasannya

Friday, 26 June 2026

Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) merupakan salah satu pusat aktivitas masyarakat, khususnya untuk berolahraga. Mulai dari olahraga lari, bulutangkis, tenis, softball, futsal, hingga basket. Dengan ragam fasilitas yang memadai dan letaknya yang berada di jantung Jakarta, kawasan ini digemari oleh masyarakat untuk berolahraga setiap hari. 

Selain olahraga, beberapa spot GBK seperti Indonesia Arena, Stadion Utama GBK, Stadion Madya, Tennis Indoor Senayan seringkali digunakan untuk menunjang kegiatan hiburan seperti konser, pertandingan olahraga, bahkan acara promosi atau peluncuran suatu brand.

Awalnya, inisiatif megaproyek kawasan ini berawal dari Asian Games III pada tahun 1958 di Tokyo yang menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games berikutnya pada tahun 1962. Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, sehingga merencanakan kawasan ini sebagai kompleks olahraga yang dilengkapi dengan fasilitas pendukungnya untuk mempersiapkan Asian Games tersebut.

Pembangunan megaproyek ini mendapat dukungan dari Uni Soviet yang saat itu dipimpin oleh Nikita Khrushchev. Para insinyur dan teknisi dikerahkan untuk melakukan perencanaan dan membangun stadion dan fasilitas olahraga di kawasan GBK. Dukungan yang diberikan tidak hanya dari para ahli, tetapi juga dari pendanaan. 

Selain Uni Soviet, Amerika Serikat juga memberikan bantuan untuk mendukung pembangunan infrastruktur pendukung.

Proses pembangunan ini juga melibatkan relokasi penduduk yang sebelumnya menempati kawasan GBK tersebut. Kampung Senayan, Petunduan, Kebon Kelapa, dan Kebon Hilir yang dihuni sekitar 60 ribu penduduk terpaksa harus direlokasi ke area Slipi di Jakarta Barat dan Tebet di Jakarta Selatan.

Selain berfungsi sebagai ruang publik untuk berolahraga, kawasan ini juga berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kawasan GBK memiliki sekitar 80% RTH yang ditandai dengan Hutan Kota GBK dan berbagai kehijauan lainnya di area tersebut. Oleh karena itu, kawasan ini kerap dijuluki sebagai paru-paru Kota Jakarta.

Seiring perkembangan zaman, sebagian kawasan GBK mulai beralih ke fungsi komersial. Pada tahun 1984, pemerintah membentuk Badan Pengelola Gelanggang Olahraga Senayan yang kini dikenal sebagai Pusat Pengelolaan Kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno (PPKGBK). Lembaga yang berada di bawah Kementerian Sekretariat Negara tersebut bertugas mengelola dan mengembangkan kawasan GBK.

Salah satu hasil dari pembentukan badan pengelola tersebut adalah kerja sama dengan pihak swasta yaitu Perusahaan Kajima yang mendirikan Plaza Senayan, Fairmont, dan juga Sentral Senayan. Bentuk kerja sama ini ditandai dengan kebijakan Hak Guna Bangunan (HGB) diatas Hak Pengelola (HPL)

Meskipun sebagian kawasan GBK kini telah berkembang menjadi area komersial, fungsi utamanya sebagai kawasan olahraga dan ruang terbuka hijau tetap dipertahankan. Transformasi ini menunjukkan bagaimana GBK tidak hanya menjadi warisan sejarah olahraga Indonesia, tetapi juga berkembang menjadi kawasan multifungsi yang mengakomodasi kebutuhan rekreasi, bisnis, hiburan, dan ruang publik di tengah pesatnya perkembangan Kota Jakarta.

 

Penulis: Jovan Rafkhansa

Sumber:

https://gbk.id/

https://www.detik.com/

https://www.historia.id/

https://www.jakarta.go.id/

https://www.kompas.com/

https://www.hukumonline.com/

Share:
Back to Blogs